• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer

Mosaic MennonitesMosaic Mennonites

Missional - Intercultural - Formational

  • Halaman Utama
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Staff
    • Dewan & Komite
    • Petunjuk Gereja & Pelayanan
    • Memberi
    • Tautan Mennonite
  • Media
    • Artikel
    • Informasi Berita
    • Rekaman
    • Audio
  • Sumber daya
    • Tim Misi
    • Antar Budaya
    • Formasional
    • Penatalayanan
    • Keamanan Gereja
  • Peristiwa
    • Pertemuan Konferensi
    • Kalender Konfrens
  • Institut Mosaic
  • Hubungi Kami
  • 繁體中文 (Cina)
  • English (Inggris)
  • Việt Nam (Vietnam)
  • Español (Spanyol)
  • Indonesia
  • Kreol ayisyen (Creole)

Articles

Sukacita dari Surga

April 29, 2021 by Cindy Angela

Sukacita dalam pertemuan langsung pertama di tahun ini. Foto oleh Hendy Matahelemual.

Hari Rabu kemarin (4/28) Staff dari Mosaic Mennonite Conference mengadakan rapat kerja pertama kali secara tatap muka setelah lebih dari setahun rapat diadakan secara online. Tepat selang satu hari setelah CDC mengeluarkan panduan baru yang memperbolehkan melepas masker di tempat terbuka bagi yang sudah divaksin.  

Pujian dan Penyembahan dipimpin oleh Danilo Sanchez dan Hendy Matahelemual dalam 3 Bahasa. Foto oleh Hendy Matahelemual.

Acara dimulai dengan lagu pujian berbahasa spanyol “Incredible” yang dipimpin oleh Danilo Sanchez dan Hendy Matahelemual dilanjutkan dengan makan siang bersama dengan menu makanan Thailand dan Yunani dari restoran setempat yang sudah dipesan terlebih dahulu. Meski beberapa dari kami harus berkendara satu jam atau bahkan 4 jam lebih untuk menghadiri rapat ini, semuanya terbayar dengan kehangatan bukan saja cuaca tetapi kehangatan yang diberikan satu sama lain. 

Seakan akan sukacita surga mengalir ditengah tengah pertemuan ini, senada dengan lagu pujian berbahasa Indonesia, Inggris dan Spanyol yang dibawakan membuka sesi sharing kami semua. “Ya Allah kami besar, Yesus nama diatas segala nama, dan hati kami selalu memuji kebesaran nama-Mu.” 

Cuaca yang indah menemani cerita-cerita dari staff Konferensi Mosaik. Foto oleh Hendy Matahelemual.

Seperti biasa waktu sharing dilakukan dengan saling mengundang (mutual invitation) dimana kami semua saling berbagi cerita dan pergumulan doa masing masing. Saya pribadi merasakan bahwa setiap cerita dan pergumulan dibagikan menguatkan, menginspirasi sekaligus mengingatkan saya pentingnya sebuah komunitas bersama. Sebagai orang Kristen kita tidak ditakdirkan untuk berjalan sendirian tetapi berjalan bersama sama saudara saudari seiman. 

Ayat perenungan kami diambil dari kitab Yesaya 30:15 “Sebab beginilah Firman Tuhan Allah, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” 

Sesi sharing ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Marta Castillo dan Noel Santiago dimana saat itu kami menerima peneguhan bahwa Tuhan melihat kita dimana kita berada, angin berhembus pada saat itu juga menjadi pertanda bahwa Ia ingin menghembuskan sukacitanya bagi kita semua, sukacita-Nya sanggup menaklukan setiap badai dalam kehidupan kita.  

Setelah beberapa update pekerjaan dari Pelayan Eksekutif kita Stephen Kriss (yang ternyata berulang tahun hari itu juga), kami mengadakan beberapa aktivitas yang menarik, diantaranya permanan “Disk Golf” dipimpin oleh Randy Heacock, prakarya membuat Mosaic dari Keramik dipimpin oleh Emily Ralph Servant dan membuat es teler ala Indonesia dipimpin oleh Cindy Angela. 

Setelah semuanya selesai, kami saling berkoordinasi dan berpisah kembali kerumah kami masing masing tentunya dengan sebuah harapan dan energi yang baru untuk kembali melayani Tuhan dengan sukacita-Nya yang turun dari surga untuk kita semua yang percaya. 

PS: Terima kasih untuk Plains Mennonite Church yang menyediakan pavilion outdoornya untuk pertemuan kami. 

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual, Mosaic Staff

Keadilan Lingkungan: Sebuah kesadaran

April 22, 2021 by Cindy Angela

Poster film dokumenter “Before the Flood”

Ada peribahasa yang berkata, “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” yang artinya kehidupan kita harus disesuaikan dengan keadaan atau aturan dimana kita tinggal. Tetapi saya mau mengartikan ini dan mengajak kita semua bagaimana kita sebagai manusia hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. 

Ditengah usaha membawa kedalam terang, aspek kesehatan (vaksin covid19) dan aspek kemanusiaan (kekerasan bersenjata, kebrutalan polisi, keadilan sosial dan rasial),mari kita melihat permasalahan yang sama pentingnya bagi kita semua, yaitu mengenai tempat dimana kita berpijak, keadaan bumi kita, mari kita berbicara mengenai keadilan lingkungan / “climate justice”

Hari ini tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Internasional, Hari dimana kesadaran publik mengenai keadaan planet kita perlu disuarakan agar kesadaran mengenai lingkungan hidup tetap ada dan bumi kita tetap terjaga dan tetap bisa layak untuk dihidupi oleh generasi yang akan datang. 

Adalah sebuah fakta bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh polusi gas rumah kaca dan eksploitasi manusia menyebabkan bumi kita menjadi rusak. “Orang menderita, kehilangan nyawanya, seluruh ekosistem runtuh, bumi sedang menuju kepada kemusnahan masal”, ujar aktivis lingkungan hidup Greta Thunberg dalam pidatonya “How dare you”, dimana Ia mengecam pemimpin pemimpin dunia yang tidak memperhatikan lingkungan hidup. 

Bersyukur Amerika Serikat, pada bulan January 2021, kembali memutuskan untuk meratifikasi Perjanjian Paris mengenai Perubahan iklim, setelah pemerintahan sebelumnya menarik diri seluruhnya dari perjanjian ini. Tetapi langkah simbolik tanpa tindakan nyata bersama sama akan menjadi pepesan kosong saja. 

Baru saja di awal bulan April 2021 terjadi peristiwa banjir bandang di Nusa Tenggara Timur, Indonesia yang menyebabkan puluhan ribu jiwa mengungsi, ratusan rumah hancur dan lebih dari 180 orang meninggal dan puluhan masih hilang tidak dapat ditemukan.  Banjir, kekeringan, gelombang panas, kelangkaan air, kebakaran hutan dan badai diseluruh dunia akan terus meningkat jika tidak ada kesadaran mengenai keadilan terhadap lingkungan. Bagaimana kita sebagai pengikut Yesus mengambil sikap dalam hal ini? 

Saya percaya keselamatan yang Tuhan berikan kepada manusia melalui Yesus Kristus adalah keselamatan holistik yang mencakup segala aspek kehidupan. Lebih dari sekedar kehidupan kekal bersama Bapa disurga, tetapi Tuhan Yesus juga ingin Kerajaan Surga turun di muka bumi ini melalui kita orang orang yang percaya. Hal ini berarti sebagai pengikut Yesus kita harus mengambil bagian dalam pekerjaan rekonsiliasi antara manusia dan alam di muka bumi ini. Kita perlu menjadi pengelola yang baik dari alam ini beserta seluruh isinya. 

“Kita perlu melihat keadilan lingkungan hidup dan iklim sebagai pemuridan spritual’, ujar Sue Park-Hur, pastor interdenominasi MC USA. “Mari merubah cara hidup dengan menanyakan pertanyaan kepada diri kita sendiri: Bagaimana kita hidup sederhana ketika kita dikelilingi oleh kehidupan yang rumit, beracun dan penuh dengan limbah? Bagaimana kita melihat lingkungan kita pada setiap kesempatan yang ada? Bagaimana kita mempengaruhi kebijakan dan bekerja sama dengan organisasi untuk membuat dampak yang besar?” 

Untuk meningkatkan kesadaran kita dan belajar lebih jauh mengenai keadilan lingkungan / climate justice tentunya kita perlu menambah wawasan kita mengenai keadilan lingkungan ini, berikut beberapa sumber yang bisa kita tonton atau pelajari https://www.mennoniteusa.org/tag/climate-justice/

Baru saja saya menonton film dokumenter yang dibuat pada tahun 2016 berjudul “Before the Flood” yang dibawakan oleh Leonardo Di Caprio sebagai duta climate change untuk PBB yang menurut saya sangat menarik, dan masih banyak lagi sumber sumber lain yang bisa kita dapatkan mengenai keadilan lingkungan,mari terus mengedukasi diri kita sendiri dan orang lain mengenai pentingnya aspek lingkungan hidup, dan mari jadikan bumi yang kita pijak tempat yang lebih baik. 

Filed Under: Articles

Menemukan Tempat Saya dalam Permainan Puzzle

April 8, 2021 by Cindy Angela

Baca versi asli dalam Bahasa Inggris yang dimuat oleh Anabaptist World: https://anabaptistworld.org/finding-my-place-in-the-puzzle/

Kedua anak laki-laki saya sangat senang ketika kami menerima puzzle untuk Natal. Ketika kami membuka hadiah, mereka tidak sabar untuk merakitnya. Tetapi saya tahu bahwa menyelesaikan 100 keping puzzle akan terlalu merepotkan untuk anak laki-laki saya yang berusia 3 dan 6 tahun. Saya memutuskan untuk membantu menyelesaikannya sebagai tim, dan kami bersenang-senang.

Dalam perjalanan spiritual saya, terkadang saya merasa seperti anak prasekolah yang menyelesaikan teka-teki Puzzle. Ada banyak hal yang rumit untuk dipikirkan ketika saya mencoba untuk mempraktekkan ajaran Yesus. Beberapa hal dapat saya kerjakan sendiri, tetapi banyak hal lain yang tidak dapat saya pahami tanpa bantuan dari orang lain.

Photo: Dmitry Demidov,Pexels.

Sebuah puisi yang indah, yang ditulis oleh John Godfrey Saxe pada tahun 1872, menggambarkan masalah berpikir bahwa kita dapat memikirkan semuanya sendiri. Anda mungkin pernah mendengarnya: “Orang Buta dan Gajah”.

Setiap orang menyentuh bagian gajah yang berbeda dan menarik kesimpulan berdasarkan pengetahuannya yang terbatas. Orang yang menyentuh gading yakin bahwa gajah itu “sangat mirip tombak”. Yang lain, merasakan belalainya, percaya itu seperti ular. Ada lagi, menyentuh lutut gajah, mengatakan itu seperti pohon.

Saxe mengamati bahwa “masing-masing sebagian benar, dan semua salah”. Dia menyimpulkan:

Jadi, sering kali dalam perang teologis, 
para pihak yang berselisih, saya rasa, mencerca 
ketidaktahuan sama sekali 
tentang apa arti satu sama lain, 
dan mengoceh tentang gajah, yang 
belum pernah dilihat oleh satu pun dari mereka!

Saxe secara khusus menarik kesimpulan tentang agama – “perang teologis” – dari perumpamaannya. 

Bekerja dan belajar bersama dengan orang-orang yang tidak memiliki pandangan dunia yang sama dengan kita akan membuat kita melihat perspektif yang berbeda.

Saya dulu berpikir Kekristenan Barat adalah jawaban untuk semua masalah dunia. Karena saya dibesarkan sebagai seorang Kristen di Indonesia, di mana 87% populasinya beragama Islam, saya dulu berpikir budaya Barat lebih unggul dari budaya negara saya. Ini membuat saya rendah diri dan sangat menginginkan penyelamat Barat berkulit putih.

Tetapi kemudian, melalui transformasi pribadi, saya menyadari bahwa Kekristenan dan Susunan Kristen Barat jauh dari jawaban untuk semua masalah dunia. Jawabannya adalah Yesus, dan dia bukan dari Barat – atau kulit putih, atau Kristen.

Melihat Yesus sebagai orang yang terpinggirkan, marginal dalam budaya non-dominan membantu saya menyadari betapa dekat Yesus dengan penderitaan saya sebagai minoritas. Ternyata saya tidak membutuhkan penyelamat kulit putih. Saya hanya membutuhkan Yesus.

Tuhan menciptakan kita masing-masing menurut gambar-Nya. Dan Tuhan menciptakan kita masing-masing unik. Kombinasi kesamaan dan perbedaan ini membawa kekuatan pada tubuh Kristus. Berasal dari bangsa, suku dan budaya yang berbeda, terkadang kita melihat hal yang sama, terkadang berbeda.

Tapi tidak satupun dari kita bisa melihat semuanya. Untuk melihat gambaran besar Tuhan, kita perlu bekerja sama. Kita perlu melakukan percakapan yang lebih dalam dengan orang percaya yang memiliki pandangan dunia yang berbeda dari kita sendiri. 

Kita perlu menghormati dan merayakan perbedaan ini saat kita melakukan perjalanan bersama. Kita perlu beribadah, makan bersama dan membaca Kitab Suci bersama.

Dalam salah membaca tulisan suci dengan Mata Barat, Randolph Richard dan Brandon O’Brien menulis: “Kami salah membaca karena kami membaca sendiri. Kami hanya mendengar interpretasi orang memiliki latar belakang budaya yang sama seperti kami.” 

Mereka melanjutkan:

Jika kita ingin tahu kapan kita membaca diri kita sendiri ke dalam Alkitab, daripada membiarkan Alkitab berbicara dengan istilahnya sendiri, kita perlu berkomitmen untuk membaca bersama.

Gereja di seluruh dunia perlu belajar mempelajari Kitab Suci bersama sebagai komunitas global.

Memperhatikan saudara-saudari kita di luar negeri dapat membuka ruang dan memungkinkan suara-suara baru masuk.

Saya bersyukur atas kesempatan untuk belajar dan dibentuk bersama dengan saudara dan saudari saya di dalam Kristus yang telah Tuhan tempatkan di sekitar saya. Saya tahu ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Tapi, seperti kata pepatah Afrika, “Kalau mau cepat, pergilah sendiri. Jika Anda ingin pergi jauh, pergilah bersama. ” 

Sekarang saya akhirnya bisa berhenti berusaha terlalu keras untuk berasimilasi menjadi orang Amerika dan menerima kenyataan bahwa saya, dan semua orang Kristen, adalah orang asing dan pendatang dalam semua budaya.

Kita semua mencoba menemukan tempat kita dalam teka-teki: rekonsiliasi, menciptakan satu umat manusia baru, bekerja menuju perdamaian dan menyelesaikan gambaran besar Tuhan, kerajaan Tuhan, di bumi seperti di surga.

Filed Under: Articles

Respon Konferensi terhadap Dugaan Pelanggaran yang terjadi di Akademi Dock

March 25, 2021 by Cindy Angela

Kepemimpinan Konferensi Mosaik telah diinformasikan tentang adanya dugaan tindakan tidak senonoh yang dilakukan oleh Martin Wiens, kepala sekolah SMA Akademi Mennonite Dock di Lansdale, PA. Wiens dimasukkan dalam cuti administratif dan Dock telah mengontrak D. Stafford & Associates untuk menjalankan investigasi administratif.

Sebagai kepemimpinan Konferensi, kami telah mengadakan pembicaraan dengan Akademi Dock dan Agensi Edukasi Mennonite untuk membahas bagaimana kami dapat memberikan dukungan dan akuntabilitas terhadap Dock selagi mereka menjalankan proses ini. Martin Wiens tidak memegang kredensial kepemimpinan di Konferensi Mosaik. Kami akan menelaah langkah-langkah berikutnya dalam minggu-minggu kedepan saat informasi baru tersedia. Selain itu, Konferensi kami sedang bekerja dengan Dove’s Nest untuk memberikan sumber daya untuk individual, grup pemuda dan kongregasi-kongregasi.

Konferensi Mosaic tetap sadar dan memperhatikan hubungan yang berlalu lintas di dalam kongregasi Konferensi kami, Pelayanan-pelayanan yang berhubungan dengan Konferensi, para pastor dan berbagai komunitas.

Mungkin ada alumni dari Akademi Dock yang sedang mempertanyakan pengalaman mereka masing-masing dan merasa sangat bingung akan bagaimana mereka harus merespon. Untuk anda sekalian yang membagikan cerita dan keprihatinan anda, kami peduli akan luka anda dan kami mempercayai anda.

Keluarga dan teman akan murid-murid mungkin mengkhawatirkan anak-anak mereka. Untuk anda sekalian yang marah, bingung atau ketakutan, kami peduli akan luka anda dan kami mendengar anda.

Kami sangat peduli akan murid-murid, staff dan anggota dewan Dock, yang mana banyak diantara mereka adalah anggota-anggota dari kongregasi kami, dan kami peduli terhadap komunitas Dock seluasnya. Kami peduli akan luka anda, dan kami melihatnya. Kami bekerja dengan hati-hati dengan anggota kongregasi kami yang memiliki hubungan langsung untuk memastikan mereka mendapatkan perhatian kami. Kami mengundang anda semua untuk berdoa untuk semua yang terkena dampak oleh kasus ini.

Komite Central Mennonite memiliki sumber yang berguna untuk berbicara dengan anak-anak tentang pengalaman mereka tentang pelecehan, dapat ditemukan disini. Jika anda butuh memproses pikiran anda dan perasaan anda, kami mendukung anda untuk berbicara dengan pendeta remaja anda, pastor anda atau lead minister Konferensi anda. Sebagai tambahan, banyak pekerja profesional yang tersedia untuk konseling virtual di Penn Foundation, sebuah Pelayanan yang berhubungan dengan Konferensi Mosaic.

Konferensi Mosaik memperhatikan dengan serius semua dugaan pelecehaan atau perbuatan tidak senonoh. Jika anda merasa bahwa anda telah mengalami pelecehaan atau tindakan tidak senonoh di Dock atau menyaksikannya terjadi langsung, hubungi Montgomery County District Attorney Detective’s Bureau (Jaksa Wilayah Montgomery Couty Bagian Detektif) untuk melaporkannya (Detective Kate Kelly: 610-278-3582 or kkelly3@montcopa.org). Untuk informasi lebih lanjut tentang peraturan-peraturan perlindungan anak Konferensi Mosaik, tolong hubungi Wakil Pelayan Eksekutif Mary Nitzsche.

Jika anda memiliki informasi tentang kebijakan sekolah dan/atau hukum edukasi federal atau hukum hak sipil yang telah dilanggar, anda bisa menghubungi Stafford & Associates di investigations@dstaffordandassociates.com. Sediakan nama, alamat email, nomor telepon dan alasan untuk laporan anda; para investigator akan menghubungi anda kembali.

Jika anda memiliki informasi tentang kejadian pelecehan anak yang terjadi di dalam konteks pelayanan lainnya, tolong segera menghubungi hotline pelecehan anak di negara bagian anda:

  • CA: daftar nomor telepon per daerah
  • FL: 1-800-962-2873
  • MD: daftar nomor telepon per daerah
  • NJ: 1-877-652-2873
  • NY: 1-800-342-3720
  • PA: 1-800-932-0313
  • VT: 1-800-649-5285

*Terjemahan telah disediakan untuk memberikan komunikasi yang transparan dan jelas untuk keseluruhan konferensi kami yang multibahasa, dan terjemahan ini tidak bisa dianggap menjadi respon resmi kami.

Filed Under: Articles

Hal sulit di masa yang sulit

March 4, 2021 by Cindy Angela

Saya rasa kita boleh sepakat bahwa dampak Pandemi Covid-19 bukan saja menyebabkan krisis kesehatan dan ekonomi saja, tetapi juga krisis keadilan dan kemanusiaan.  Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kebrutalan polisi dan kekerasan bersenjata terhadap George Floyd, Breona Taylor, Ahmaud Arbery memicu kesadaran kita bahwa perjalanan pekerjaan restitusi, restorasi dan rekonsiliasi terhadap orang kulit hitam masih panjang. 

Pandemi seakan akan membuat luka luka dan penyakit lama yang belum pulih terbuka kembali. Dan beberapa waktu ini kejahatan kebencian, dan rasisme kembali mengalami peningkatan, kali ini yang mengalami dampak adalah komunitas Asia di Amerika Serikat. Kejahatan kebencian terhadap komunitas Asia mengalami peningkatan cukup signifikan ditahun 2020. 

Mungkin puncak kekerasan ini terjadi pada bulan January, 2021, Vichar Ratanapakdee berusia 84 tahun didorong sehingga tersungkur, dan beliau akhirnya kehilangan nyawanya di rumah sakit di San Francisco, California. Sejak February tercatat 3000 kasus kejahatan bermotif kebencian terhadap orang Asia di Amerika Serikat dan semakin hari semakin meningkat. Toko-toko Asia dijarah, bahkan rumah ibadah pun dirusak. 

Peningkatan ini dipicu oleh retorik rasisme dan xenophobia seputar Covid19. Meski memorandum mengencam rasisme, xenophobia, dan intoleransi terhadap orang Asia dan Kepuluan Pasifik di Amerika Serikat telah dikeluarkan pemerintah, perkerjaan rumah kita sebagai konferensi masih banyak dan perjalanan menuju keadilan rasial masih panjang. 

Isu kemanusiaan dan keadilan rasial terhadap orang Asia di Amerika Serikat bukanlah hal yang baru. Undang-undang pengecualian China (1882) dan Interniran Jepang Amerika (1942) adalah beberapa contoh dari banyaknya perlakuan diskriminatif terhadap orang Asia Amerika. Sebagai kaum minoritas, banyak orang Asia mengalami perlakuan diskriminatif setiap harinya. Pandemi hanya membukakan penyakit dalam masyarakat yang sebenarnya sudah ada sejak semula, penyakit rasisme. 

Rasisme dalam komunitas Asia sebenarnya adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, ketika kejahatan yang dipicu oleh kebencian terjadi, besar kemungkinan orang Asia yang mengalami kekerasan tidak melaporkannya kepada kepolisian. Hal ini antara lain disebabkan ketidakfasihan dalam berbahasa Inggris dan tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih besar lagi, sehingga banyak yang memilih untuk diam. 

Apakah diam adalah sesuatu yang baik? Ada sebuah pepatah yang berkata, berbicara adalah perak dan diam adalah emas. Setelah saya renungkan, saya percaya untuk menyingkapkan kejahatan, berbicara adalah berlian, Rasisme adalah kejahatan, dan Tuhan Yesus menjauhi kebencian.

Tetapi jika ditanya hari ini langkah apa yang perlu untuk dilakukan? Menurut saya  hal ini adalah hal yang sulit dimasa sulit, sehingga saya memilih untuk berdoa meminta hikmat, damai dan ketenangan,berdoa supaya Tuhan berikan ketenangan di hati ini,  sama seperti halnya air tenang tetapi menghanyutkan segala kejahatan. 

Baru kemarin saya antri di kasir di supermarket setelah membeli beberapa bahan makanan. Dan saya melihat seorang pria Asia tua mengalami kesulitan membayar di kasir, Dia tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik atau mungkin tidak sama sekali. Kasir dibuat frustrasi oleh pria ini, dan segera salah satu pelanggan melakukan tindakan yang tidak pantas dengan mencoba mengambil uangnya dan menyelesaikannya dengan cara yang kasar yang sebenarnya tidak perlu. Setelah lelaki tua itu pergi, baik kasir maupun pelanggan itu menyeringai. Sekali lagi hal semacam ini bukanlah sesuatu yang baru dan hati saya gelisah.

Mungkin banyak dari orang keturunan Asia di Amerika termasuk saya tidak mengalami kekerasan fisik, tetapi kita semua pernah mengalami jenis kekerasan lain, kekerasan verbal, agresi mikro, stereotip dan intoleransi. Saya percaya bahwa keterbukaan adalah awal dari pemulihan dan saya percaya bahwa dari setiap krisis dan konflik ada peluang untuk perdamaian dan rekonsiliasi.

Sebagai penutup saya diingatkan oleh ayat ini: 

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.

Yohanes 16:33

Kami melihat ketahanan, keindahan, dan kekuatan dalam komunitas Asia. Konferensi berdiri bersama melawan semua kebencian dan rasisme. Mari terus berjuang untuk perdamaian, keadilan dan non-kekerasan, dan marilah kita menyembuhkan dan berdamai bersama di dalam Yesus.

Filed Under: Articles

Hidup untuk Melayani

February 26, 2021 by Cindy Angela

Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. – Galatia 1:10 

Ayat ini menjadi pembahasan dalam pertemuan bulanan para hamba Tuhan dalam Mosaic Conference minggu lalu. Sharing Firman Tuhan dibawakan oleh Ps Buddy Hannanto (IWC) dan dibuka oleh pujian penyembahan oleh Ps Aldo Siahaan (PPC). Pertemuan dihadiri oleh Ps Makmur Halim (ICCF), Ps Beny Krisbianto (NWC), Ps Virgo Handojo (JKIA) dan saya sendiri. 

Perbedaan budaya dan konteks pelayanan di Indonesia dan di Amerika Serikat tentunya memiliki perbedaan. Perbedaan ini meliputi banyak hal selain konteks dan tantangan, peran hamba Tuhan juga memiliki perbedaan. 

Dalam budaya gereja Indonesia pada umumnya, dan khususnya gereja yang kami layani, peran hamba Tuhan sangatlah utama dan sentral dalam kehidupan jemaat. Hamba Tuhan dan jemaat adalah sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan, sehingga merupakan suatu hal yang umum bagi hamba Tuhan hidup dari pelayanan yang ia kerjakan. 

Namun pada kenyataan dan konteks di Amerika Serikat, pelayanan seorang hamba Tuhan tidaklah terbatas hanya melayani jemaat, melainkan pelayanan lebih luas daripada itu. Adalah sebuah hal yang umum jika Seorang hamba Tuhan di Amerika Serikat memiliki profesi lain selain sebagai gembala di jemaat lokal,  terutama bagi hamba Tuhan yang baru merintis jemaat. 

“Bahkan Paulus dalam melayani Tuhan, Tuhan izinkan Dia untuk membuat dan menjual tenda untuk mendukung pelayanan beliau”, ucap Ps Makmur Halim dalam pembahasan kami mengenai profesi dan panggilan. 

Paulus bersama sama dengan Aquila dan Priscilla membuat tenda untuk mendukung pelayanan (Kisah Para Rasul 18:2-3) 

Perbedaan kultur dan budaya tentunya berperan besar dalam mengartikan profesi dan panggilan. Dalam pertemuan ini kami sepakat bahwa peran panggilan adalah penting, dimana hal ini adalah unik dan berbeda beda antara setiap hamba Tuhan. Dan setiap hamba Tuhan masing-masing bertanggung jawab langsung kepada Tuhan dalam profesi dan panggilannya. 

Dalam pertemuan ini kami juga sepakat bahwa perbedaan budaya dan konteks  ini adalah sebuah kekayaan dan kesempatan bagi kita semua untuk belajar dan juga memperdalam arti panggilan dalam melayani Tuhan. Tuhan juga memberikan para hamba Tuhan hikmat dalam mengatur strategi dan langkah yang diperlukan untuk menopang panggilan pelayanan kita, mari melihat panggilan dan pelayanan dalam ruang lingkup yang lebih luas, ucap Ps Virgo Handojo

Doa penutup dipimpin oleh Ps Beny Krisbianto (NWC) dengan mendoakan keluarga, pelayanan, bangsa dan negara Indonesia dan Amerika Serikat. Kelancaran distribusi vaksin dan juga kesehatan para hamba Tuhan. 

Mari bergabung dalam pertemuan hamba Tuhan berbahasa Indonesia kami untuk saling berbagi, membahas Firman Tuhan, dan mendukung satu sama lain dalam pelayanan. Pertemuan diadakan setiap Hari Kamis minggu ketiga setiap bulannya, dimulai pukul 9 PM (New York Time) / 6 PM (Pacific Time) terbuka bagi setiap hamba Tuhan / pelayan di Mosaic Mennonite Conference. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

Filed Under: Articles

Berpijak Keluar dengan Iman… Kedalam Jalan Sempurna Tuhan

February 18, 2021 by Cindy Angela

Baca versi original artikel ini dalam Bahasa Inggris: Stepping Out in Faith… Into God’s Perfect Way
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Cindy Angela

Saya dilahirkan di Indonesia di tengah keluarga yang sangat “pastoral”. Kakek, ayah, dan tante-tante saya semuanya adalah pendeta. Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Saya bersyukur bahwa orang tua saya mengenalkan saya kepada kekristenan dari usia dini.

Rumah kami terletak disebelah gedung gereja pada saat saya tumbuh besar. Karena itu, saya jarang melewarkan aktifitas gereja. Dimulai dari kelas tujuh, saya sudah terlibat dalam pelayanan Sekolah Minggu. Kemudian saya menjadi aktif dalam pelayanan musik.

Foto profil Steve Zacheus.

Walaupun saya tidak pernah dilatih secara formal dalam musik, namun saya menemukan panggilan saya didalamnya. Saya mengajarkan diri saya sendiri untuk bermain instrumen-instrumen musik. Saya mau mengangkat hal yang saya sukai (musik) dan menggunakannya untuk melayani orang lain. Selulusnya saya dari SMA, saya memutuskan untuk mengambil jurusan musik gereja di sebuah universitas Kristen di Yogyakarta.

Setelah lulus kuliah ditahun 1997, saya melayani sebuah gereja di Jakarta. Kadang-kadang, saya juga melayani di kampung halaman saya.

Di dalam periode waktu ini, saya bertemu orang Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Dia sering melayani di Indonesia dan adalah anggota dari JKI Anugerah di Sierra Madre, CA. Singkat cerita, dia mengundang saya untuk pindah ke Amerika Serikat dan menyeponsori saya untuk sekolah di Calvary Chapel Bible College.

Proses yang panjang harus saya lalui sebelum saya bisa memijakkan kaki di Amerika Serikat. Aplikasi visa saya ditolak tiga kali. Akhirnya, di tahun 2000, visa pelajar saya diterima. JKIA adalah gereja pertama yang saya hadiri di AS dan masih menjadi gereja saya sekarang.

Walaupun saya tumbuh dikelilingi banyak pendeta dan pelayan gereja, panggilan saya untuk ordinasi adalah proses gradual dimana Tuhan menunjukkan kesabaran-Nya kepada saya untuk menjawab kasih karunia-Nya.

Pada 12 Januari 2003, saya mendapatkan kredensial di Pacific Southwest Mennonite Conference di JKIA dan melayani dalam departemen musik. Tanggung jawab utama saya adalah memimpin tim musik dan kelompok persekutuan (small groups). Walaupun saya bersukacita dalam melayani Tuhan, saya tidak yakin apakah saya mau mengambil langkah maju dalam ordinasi.

Satu hal yang saya tahu melalui setiap musim hidup saya, adalah bahwa saya bisa percaya dan berlindung dalam naungan Tuhan. Dia selalu setia kepada saya. Dia menunjukkan kasih-Nya dengan memimpin saya setiap kali saya ditengah situasi yang menantang. Melalui kasih-Nya, Dia memanggil saya terus menerus sehingga saya beriman untuk mengikuti panggilan-Nya. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1, TB).

Ordinasi Steve Zacheus pada bulan Oktober 2020, difoto dengan Jeff Wright (Leadership Minister).

Akhirnya saya mendapatkan keyakinan dalam diri saya bahwa kita semua dipanggil Tuhan untuk melayani Dia semampu kita. Menjadi hamba Tuhan adalah respon kita terhadap kasih Tuhan. Cara terbaik untuk saya meresponi kasih Tuhan adalah untuk melayani Dia dengan semua talenta yang Dia telah percayakan kepada saya. Selama ini Dia telah bersabat, menunggu saya untuk mempersiapkan diri.

Pada 25 Oktober 2020, saya di ordinasi oleh Konferensi Mosaic. Ini adalah bab baru dalam pelayanan saya. Karena Tuhan begitu setia selama ini, saya percaya bahwa Dia akan tetap memimpin saya dalam perjalanan iman ini. Pekerjaan Tuhan belum selesai dalam hidup saya.

“Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” (Ibrani 11:40, TB). Sebagai umat manusia, seringkali rasa ragu atau ketakutan menghantui kita, namun seperti perkataan Tuhan mengingatkan kita semua, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yohanes 4:18, TB).

Kasih Tuhan memimpin saya dalam melangkah keluar dengan iman menuju jalan-Nya yang sempurna.

Filed Under: Articles, Call to Ministry Stories Tagged With: JKI Anugerah, Steve Zacheus

Gong Xi Fa Cai

February 11, 2021 by Cindy Angela

Acara Imlek di Nations Worship Center tahun 2019

Gong Xi Fa Cai! Hari Jumat ini merupakan hari perayaan tahun baru Imlek, dimana ini adalah hari libur dan perayaan terpenting dalam kebudayaan TiongHoa. Imlek menandakan pergantian tahun dalam kalendar lunar yang biasanya jatuh antara tanggal 21 January – 20 February.  

Di Indonesia sendiri tahun baru Imlek dirayakan oleh warga keturunan TiongHoa, tetapi baru tahun 2001 perayaan ini boleh dilakukan secara terbuka, sebelumnya hanya boleh dirayakan secara tertutup. Tahun baru Imlek dijadikan hari libur nasional di Indonesia pada tahun 2003. 

Ada sebuah kebiasaan menarik pada waktu tahun baru imlek yang banyak ditunggu khususnya oleh anak anak, yaitu bagi bagi angpao. Angpao yang artinya amplop merah ini diisi oleh uang yang disiapkan biasanya oleh orang yang lebih tua yang sudah berkeluarga. Ketika acara kumpul keluarga anak anak akan mengucapkan “Kiong Hee” sambil melakukan gesture unik dengan kedua tangan dikepal di depan kepala seperti mau berdoa. Dan setelah itu biasanya angpao dibagikan. 

Acara Imlek di Philadelphia Praise Center tahun 2020.

Ada yang menarik dalam kebudayaan Tionghoa yang saya rasa perlu kita rayakan dan hormati dalam kaitan interkultural, ini bisa terlihat dari perayaan tahun baru imlek ini. Gong Xi Fa Cai (Mandarin) dan Kiong Hee (Hokkien) sebenarnya memiliki arti yang sama, yang adalah Selamat dan saya berharap kamu bisa kaya raya. Imlek pun identik dengan nuansa merah yang menandakan keberuntungan, sukacita dan kebahagiaan. 

Pertanyaan menarik adalah bagaimana kita sebagai pengikut Yesus menyikapi janji Tuhan untuk kemakmuran dihadapkan dengan panggilan untuk hidup menderita bersama Yesus. Tuhan Yesus berkata, “Pencuri datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan tetapi aku datang untuk membawa hidup, hidup yang berkelimpahan” (Yoh 10:10), tetapi di satu sisi ia berkata “Barangsiapa mau mengikut aku ia harus menyangkal diri, dan mengikut aku (Mat 16:24) 

Dari kedua ayat diatas ini saya melihat ada aspek memberi dan menerima. Tuhan mau memberi hidup, hidup yang berkelimpahan dan Tuhan meminta kita untuk memberikan seluruh hidup kita kepadanya. Hal ini bukanlah sebuah transaksi, tetapi sebuah proses transformasi yang terjadi ketika manusia lama kita diperbaharui oleh Tuhan menjadi manusia baru. Di satu sisi kita mengalami pergumulan karena manusia lama kita, tetapi disisi lain kita mau merayakan manusia baru kita di dalam Yesus. 

Acara Imlek di JKI Anugerah tahun 2020.

Meski tradisi tahun baru Imlek tidak terdapat dalam alkitab, saya percaya Tuhan bisa memakai perayaan ini untuk kemuliaan nama Tuhan, dan untuk kita belajar.  Manusia lama kita adalah manusia miskin,tetapi manusia baru kita adalah manusia kaya. Dan selama proses transformasi ini berlangsung kita diajar untuk terus memberi sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan. Kita juga belajar untuk untuk merayakan pembaharuan hidup kita bersama keluarga dengan meriah dan penuh sukacita. 

Perayaan imlek tahun ini pastinya sangat berbeda dengan tahun tahun biasanya, tetapi satu hal yang pasti suasana kekeluargaan, merah meriah, dan sukacita tetap terlihat. Selamat tahun baru imlek 2021, Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Filed Under: Articles

  • « Go to Previous Page
  • Go to page 1
  • Interim pages omitted …
  • Go to page 13
  • Go to page 14
  • Go to page 15
  • Go to page 16
  • Go to page 17
  • Go to page 18
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

  • Halaman Utama
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Staff
    • Dewan & Komite
    • Petunjuk Gereja & Pelayanan
    • Memberi
    • Tautan Mennonite
  • Media
    • Artikel
    • Informasi Berita
    • Rekaman
    • Audio
  • Sumber daya
    • Tim Misi
    • Antar Budaya
    • Formasional
    • Penatalayanan
    • Keamanan Gereja
  • Peristiwa
    • Pertemuan Konferensi
    • Kalender Konfrens
  • Institut Mosaic
  • Hubungi Kami

Footer

  • Home
  • Hubungi Kami
  • Pertemuan Konferensi
  • Visi & Misi
  • Sejarah
  • Formasional
  • Antar Budaya
  • Tim Misi
  • Institut Mosaic
  • Memberi
  • Penatalayanan
  • Keamanan Gereja
  • Artikel

Copyright © 2026 Mosaic Mennonite Conference | Privacy Policy | Terms of Use
Aligned with