• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer

Mosaic MennonitesMosaic Mennonites

Missional - Intercultural - Formational

  • Halaman Utama
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Staff
    • Dewan & Komite
    • Petunjuk Gereja & Pelayanan
    • Memberi
    • Tautan Mennonite
  • Media
    • Artikel
    • Informasi Berita
    • Rekaman
    • Audio
  • Sumber daya
    • Tim Misi
    • Antar Budaya
    • Formasional
    • Penatalayanan
    • Keamanan Gereja
  • Peristiwa
    • Pertemuan Konferensi
    • Kalender Konfrens
  • Institut Mosaic
  • Hubungi Kami
  • English (Inggris)
  • Español (Spanyol)
  • Indonesia

JKI Anugerah

Berkembang dengan Anugerah: Dari Pesisir ke Pesisir, Orang Indonesia Mendiversifikasi dan Memperkaya Anabaptisme di AS

August 1, 2024 by Cindy Angela

oleh Eileen Kinch

Awal diterbitkan pada 3 Juli 2024, di Anabaptist World, dan dicetak ulang dengan izin.

Pastor Aldo Siahaan berdoa selama kebaktian Natal di Philadelphia Praise Center pada bulan Desember 2023. Foto oleh Haris Tjio

Mennonite Indonesia mulai datang ke Amerika Serikat pada tahun 1980-an, dan jumlah mereka meningkat setelah tahun 1998. Saat ini terdapat 19 jemaat Mennonite Indonesia yang berlokasi di pesisir Barat dan Timur.

Beberapa dari mereka sudah menjadi Mennonite, bagian dari gerakan Anabaptis di Indonesia yang saat ini berjumlah 107.000 anggota, sedangkan yang lainya menjadi Anabaptis ketika berada di Amerika Serikat.

Salah satu yang menjadi Anabaptis ketika berada di Amerika Serikat adalah adalah Aldo Siahaan, pastor dari Gereja Philadelphia Praise Center. Jemaat ini berdiri secara independen pada tahun 2005.  Hari ini, Pastor Aldo Siahaan adalah pemimpin dan penghubung Mennonite Indonesia di Amerika Serikat.

Dari delapan jemaat Indonesia yang berafiliasi dengan Konferensi Mosaik dari Gereja Mennonite USA, hampir semuanya bergabung karena koneksi dengan Pastor Aldo Siahaan. Gereja-gereja Indonesia sekarang mencakup lebih dari 10% dari Konferensi Mosaik.

Pastor Aldo Siahaan mengetahui tentang Mennonite ketika seorang anggota gereja bertanya apakah pastor Mennonite dari Indonesia bisa mengunjungi Philadelphia Praise Center selama beberapa minggu. Pastor itu adalah Bastian Yosin, seorang pastor Mennonite dari Jawa. Setelah mengetahui bahwa jemaat ini tidak berafiliasi, Pastor Yosin merekomendasikan Pastor Aldo Siahaan menghubungi Konferensi Franconia Mennonite (sekarang Mosaic setelah bergabung dengan Konferensi Distrik Timur).

Mengikuti saran Pastor Yosin, Pastor Aldo pergi ke kantor Konferensi Franconia. Staf mengundangnya ke pertemuan berikut MC USA berikutnya di San Jose.

Pastor Virgo Handojo, pastor Jemaat Kristen Indonesia Anugerah di Sierra Madre, California, tidak mengenal Pastor Aldo Siahaan sampai mereka bertemu di San Jose pada tahun 2007.

Pastor Handojo membentuk Asosiasi Mennonite Indonesia, yang meliputi Pastor Virgo Handojo, Pastor Aldo Siahaan, dan Pastor Beny Krisbianto, pastor Nations Worship Center di Philadelphia. Asosiasi ini merupakan anggota Dewan Etnis Rasial MC USA, yang membawa perspektif orang-orang kulit berwarna ke dalam kepemimpinan dan perencanaan MC USA.

Namun, hubungan antara Pastor Virgo Handojo dan Pastor Aldo  menghasilkan buah lainnya.

Pada tahun 2017, Jemaat Kristen Indonesia Anugerah sedang mencari afiliasi setelah Konferensi Pasifik Barat Daya diorganisir ulang. Jemaat Pastor Virgo, yang berjumlah sekitar 50 orang, bisa saja memilih untuk bergabung dengan lima jemaat Indonesia yang tetap berafiliasi dengan sinode Jemaat Kristen Indonesia Mennonite di Indonesia. Namun, mereka bergabung dengan Mosaik, seperti halnya dua jemaat California lainnya: International Worship Church di San Gabriel dan Immanuel International Church di Colton.

Ketika Pastor Virgo Handojo datang ke AS untuk menghadiri Seminar Fuller pada tahun 1987, ia berniat kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya. Pastor Virgo, yang saat itu merupakan anggota sinode JKI di Indonesia, ingin melakukan studi formal untuk meningkatkan efektivitasnya sebagai pendeta di sana. Namun, “Tuhan menutup pintu” untuk kembalinya ke Indonesia, kata Pastor Virgo dalam wawancara.

Ia terlibat dengan Mennonite di Amerika Serikat setelah menerima panggilan telepon dari Mennonite Board of Missions, pendahulu dari Mennonite Mission Network. Seseorang menominasikannya untuk menjadi anggota dewan direksi. “Sampai hari ini, saya tidak tahu siapa yang menominasikan saya,” katanya.

Sandrie Wahyu, depan tengah, memimpin ibadah di Philadelphia Praise Center. Foto oleh Haris Tjio.

Menjadi anggota dewan misi menarik baginya. Pastor Virgo dipengaruhi oleh Pastor Adi Sutanto dari sinode JKI, yang percaya pada “menanam gereja di mana saja di dunia,” kata Pastor Virgo. “Setelah panggilan telepon itu, saya sangat terlibat dalam Mennonite Church USA.” Ia menjabat di dewan selama lebih dari 10 tahun.

Tidak semua Mennonite Indonesia di AS memiliki pengalaman yang sama dengan Pastor Virgo Handojo. Ia datang ke AS untuk pendidikan, tetapi yang lainnya, termasuk Pastor Aldo Siahaan, datang mengungsi dari kerusuhan pada tahun 1998.

Kerusuhan dimulai sebagai protes mahasiswa terhadap kondisi ekonomi, tetapi militer menghasut penjarahan terhadap bisnis keturunan Cina-Indonesia dan kekerasan terhadap perempuan. Banyak keturunan Cina-Indonesia juga merupakan orang Kristen.

Indonesia adalah negara mayoritas Muslim, dengan Kristen terdiri dari 11% dari populasinya. Konstitusi negara ini membolehkan kebebasan beribadah bagi orang Kristen, tetapi Pastor Aldo bersyukur atas kebebasan yang ia alami di AS. Di Indonesia, ia merasa cemas saat pergi ke gereja. “Sesuatu bisa saja terjadi,” katanya.

Kerusuhan juga berperan dalam kehidupan orang tua Graciella Odelia, yang pindah bersama Odelia dan saudara perempuannya Marciella ke AS pada tahun 2011. Di tengah kekerasan, orang tua mereka terkunci di dalam sebuah gedung yang akan dibakar.

Odelia, yang baru-baru ini mendapatkan lisensi untuk pelayanan pemuda di Nations Worship Center, datang ke AS ketika ia berusia 10 tahun. Keluarganya menjadikan NWC sebagai gereja rumah mereka. Ia bersekolah di Dock Mennonite Academy dan Eastern Mennonite University serta sedang meraih gelar master dalam kepemimpinan Kristen di Eastern Mennonite Seminary.

Marta Castillo, wakil pemimpin eksekutif Mosaic Mennonite Conference, mengurapi dan berdoa untuk Graciella Odelia, yang mendapatkan lisensi untuk pelayanan pemuda di Nations Worship Center pada bulan Juni. Foto oleh Joe Byakko Bongs.

Ketika Pastor Beny Krisbianto, pastor NWC, merasa prihatin terhadap generasi berikutnya, ia dan istrinya yang juga co-pastor, Pastor Angelia Susanto, meminta Graciella untuk membantu pelayanan pemuda. Graciella sekarang mengorganisir ibadah pemuda mingguan pada Sabtu sore. Ibadah pemuda ini dilakukan dalam bahasa Inggris, menarik pemuda dari jemaat Mennonite Indonesia lainnya di sekitar serta beberapa pemuda yang tidak memiliki gereja rumah.

NWC beribadah dalam bahasa Indonesia, dengan interpretasi untuk penutur bahasa Inggris, pada Minggu pagi. Namun, ibadah pemuda dilakukan dalam bahasa Inggris karena sebagian besar pemuda lahir di AS.

“Mereka hanya bisa beberapa kata dalam bahasa Indonesia,” kata Graciella. Banyak pemuda mendengar bahasa Indonesia diucapkan di rumah oleh orang tua mereka. “Mereka masih berlatih sedikit tetapi [tidak] lancar sepenuhnya,” katanya.

Marciella, yang membantu ibadah pemuda saat ia pulang dari EMU, menambahkan bahwa terkadang pemuda lebih suka tidak mendengarkan jika ibadah dilakukan dalam bahasa Indonesia.

Graciella berbagi kesaksiannya dalam bahasa Indonesia sebelum mendapatkan lisensi untuk pelayanan, tetapi menemukan pengalaman itu menantang. Ia menjadi sukarelawan sebagai penerjemah di sebuah klinik kesehatan untuk memperbaiki struktur kalimat bahasa Indonesianya dan meningkatkan keterampilan bahasanya secara formal. Tetapi ia memiliki alat lain. “Duolingo membantu,” katanya sambil tertawa, mengacu pada aplikasi dan situs web belajar bahasa.

Pemuda di Nations Worship Center membantu mengemas tas bahan makanan untuk pelayanan jemaat. Tas-tas ini mendukung anggota dan pengunjung yang mengalami kesulitan keuangan. Selama COVID-19, banyak orang Indonesia kehilangan pekerjaan di pabrik dan restoran, dan distribusi bahan makanan mencapai 90 tas mingguan berisi telur, mie, beras, dan makanan kaleng. Saat ini situasinya lebih stabil, dan NWC hanya menyiapkan 30 tas.

Namun, jemaat menemukan dirinya membantu gelombang imigran Indonesia lainnya. Banyak yang mencari kesempatan keuangan yang lebih baik. Krisbianto mengatakan bahwa pandemi membatasi imigrasi dan perjalanan, jadi banyak yang memutuskan untuk datang sekarang.

Siahaan mengatakan bahwa motivasi untuk imigrasi saat ini mungkin memiliki sudut pandang politik. Presiden terpilih Indonesia yang baru, Prabowo Subianto, memainkan peran utama dalam kerusuhan 1998.

“Ada ketidakpastian,” kata Pastor Aldo Siahaan, menjelaskan bahwa beberapa orang ingin meninggalkan Indonesia “sebelum sesuatu yang buruk terjadi.” Kasus kasus individu- individu Muslim yang mengganggu kebaktian gereja telah terjadi pada tahun 2023 dan 2024.

Krisbianto, yang datang ke AS pada tahun 2001 untuk pendidikan, merasa terpanggil untuk melayani para imigran. Pelayanannya dimulai sebagai pekerjaan sosial, karena ia menjadi penerjemah bagi pasien Indonesia di klinik kesehatan. Seseorang berkata kepadanya, “Pastor, di mana gereja Anda?” Krisbianto menjawab bahwa ia sedang mencoba menanam satu gereja. Beberapa orang di klinik mengatakan mereka ingin datang.

Gereja dimulai dengan sembilan orang pada tahun 2006. Persembahan sebesar $90 — $10 kurang dari sewa. Krisbianto menambahkan $10 untuk memenuhi kebutuhan. “Oleh anugerah Tuhan, [gereja] tumbuh,” katanya. Hampir 300 orang datang untuk beribadah selama tiga kebaktian.

Nations Worship Center merayakan ulang tahun ke-18 pada 19 Mei. Dari kiri adalah Beny Krisbianto, Angelia Susanto, Graciella Odelia, dan para penatua Theresia, Nengah, dan San-San. Foto dari Beny Krisbianto.

Namun, menjadi imigran di negara lain adalah tantangan. Mencabut diri dari keluarga sangatlah sulit. Proses hukum bisa lambat dan menyulitkan, serta penyesuaian dengan bahasa dan budaya baru memerlukan waktu.

Bagi Pastor Aldo Siahaan, merasa bahagia dengan kepindahannya datang dalam retrospeksi.

“Setelah saya melakukan kilas balik, ya [itu sepadan]. Hubungan saya dengan Yesus lebih kuat di sini,” kata Siahaan. Ia tidak memiliki keluarga dekat di sekitar, jadi ia harus “benar-benar bergantung pada Tuhan.” Tetapi ia puas dengan hidupnya di AS: “Tuhan memberi saya begitu banyak.”

Banyak Mennonite Indonesia tertarik pada pesan berpusat pada Kristus dari Anabaptisme dan pekerjaan rekonsiliasinya. Pastor Beny Krisbianto mengatakan bahwa orang Indonesia tidak menerima sambutan hangat dari beberapa lingkungan di Philadelphia. Tetapi Mennonite di Konferensi Franconia berbeda.

“Mereka sangat baik, tenang, sederhana, rendah hati. Dan mereka sangat ramah,” kata Pastor Beny Krisbianto. “Kami merasa seperti bagian dari keluarga mereka.”

Stephen Kriss, menteri eksekutif Konferensi Mosaic, menghargai apa yang dibawa jemaat Indonesia ke dalam konferensi.

“Getaran ibadah sambil memegang bersama-sama rasa keperdulian, penginjilan dan pencarian keadilan yang terjadi dalam konteks Indonesia terus mempengaruhi komunitas Mosaik kami secara luas,” katanya.

Dari 19 jemaat Mennonite Indonesia di AS, delapan berafiliasi dengan Mosaik. Enam tetap bersama sinode Mennonite di Indonesia, dan yang lainnya bergabung dengan konferensi seperti Pacific Southwest dan LMC.


Eileen Kinch

Filed Under: Articles Tagged With: JKI Anugerah, Nations Worship, Philadelphia Praise

Crazy for Jesus: Cerita Panggilan Virgo Handojo

March 29, 2023 by Conference Office

oleh Virgo Handojo

Masa kecil saya dipenuhi dengan tradisi dan ritus kebudayaan Tionghoa yang masih berakar di hati saya. Hormatilah dan kasihilah orang tuamu, keluargamu, dan sesamamu, maka engkau akan beroleh berkat. Sayang, kenangan indah itu tidak berlangsung lama. Perubahan kebijaksanaan politik di Indonesia pada waktu itu melarang pengembangan tradisi Tionghoa, bahkan membaca karakter Mandarin pun dianggap suatu kejahatan politik. Meskipun begitu ajaran dan tradisi Tionghoa masih membekas di batin saya.

SD dan SMP merupakan tempat kedua di mana saya mengenal Tuhan. Saya dididik di sekolah Katolik. Di sini saya belajar bahwa mengikuti misa di gereja lebih penting dari pengetahuan tentang Tuhan atau belajar dari Alkitab. Setiap hari tertentu kami diwajibkan untuk ke gereja. Tidak heran, sewaktu duduk di bangku SMP saya kemudian mengikuti  katekisasi selama satu tahun untuk dibaptis menjadi Katolik.

Senin sore 5 Maret di tahun 1979 memang hari biasa, namun luar biasa bagi hidup saya. Tuhan menjamah hidup saya. Tiong Gie, teman sekampung dan sepermainan mengajak saya ke sebuah persekutuan doa dimana saya mengalami kelahiran baru (Yoh 3:7-8; 2Kor.5:17). Sulit digambarkan dengan kata-kata, namun saya telah merasakan jamahan tangan Ilahi (2009: 80-81).Sejak itu saya mulai belajar mendengar dan menaati suara Tuhan dan hidup bersama dengan-Nya.

Sementara itu, Tuhan mulai memperluas pelayanan dan hubungan saya dengan orang Kristen yang lain. Lewat Keluarga Sangkakala yang dipimpin oleh Bapak Adi Sutanto dengan persekutuan doa di Kapuran 45, Semarang, Tuhan mulai melatih hidup saya bersama dengan pemuda-pemudi sebaya saya.

Secara bergiliran kami berkhotbah, menjadi penginjil keliling ke desa-desa dan kota-kota lain. Adik-adik sayapun semuanya menjadi aktivis dalam pelayanan dan memimpin persekutuan doa rumah tangga di kampung-kampung, sekolah-sekolah, dan di rumah-rumah. Melalui jaringan keluarga, pekerjaan, sekolah, dan pelayanan yayasan Sangakakala, kegerakan rohani dan persekutuan-persekutuan doa ini menyebar ke kota-kota lain seperti Kudus, Pati, Ungaran, Jogya, dll.

Lewat pelayanan-pelayanan ini saya bertumbuh baik secara rohani ataupun pengalaman dalam pelayanan. Pada waktu itu kami juga mulai merintis gereja-gereja, baik di desa maupun di kota, di dalam maupun di luar negeri. Lewat gerakan pemuda-pemudi ini bermunculan banyak yayasan misi, sinode dan gereja-gereja baru baik di dalam ataupun di luar negeri.

Saya sendiri terlibat dalam perintisan Sinode Jemaat Kristen Indonesia (Sinode JKI) yang secara teologis berafiliasi dengan gerakan Anabaptist Kharismatik. Di tahun 1986 saya ditahbiskan dan melayani di gereja Jemaat Kristen Indonesia Maranatha, Ungaran. Bersama sinode JKI  kami merintis Sekolah Alkitab Maranatha yang menjadi benih dari Sekolah Tinggi Sangkakala, Salatiga. 

Tahun 1987 berbekal uang $65 saya mendarat di Los Angeles untuk sekolah di Fuller Theological Seminary. Atas anugerah Tuhan saya berhasil menyelesaikan tiga Master degree di bidang Intercultural Studies, Theology, dan Leadership dan di tahun 2000 Ph.D. Marriage and Family Studies dari School of Psychology. Tahun 1989 Tuhan mempertemukan saya dan istri dengan Ibu Dina Boon dari kota Sierra Madre, CA. Kami diminta untuk membersihkan rumah Ibu Dina Boon dari kuasa-kuasa gelap. Lewat pelayanan ini lahirlah International House Fellowship di rumah Ibu Dina Boon. Akhir 1990 persekutuan keluarga ini berkembang menjadi 30-50 orang dari 10-13 macam bangsa. Lewat persekutuan ini, lahirlah Jemaat Kristen Indonesia Anugerah (JKIA) pada tanggal 19 September 1992 di gereja Free Methodist Church, Pasadena. Kebaktian Perdana di mulai hari Minggu 20 September 1992. Beberapa bulan kemudiaan gereja pindah ke Sierra Madre Congregational Church, 191 W. Sierra Madre, CA 91024.

Di San Jose Mennonite General Assembly (4 Juli, 2007) JKIA bersama dengan dua gereja Indonesian Mennonite di LA dan Philadelphia Praise Center (PPC), mendirikan Indonesian Mennonite Association (IMA). Hari ini IMA telah menjadi salah satu anggauta dari Racial Ethnic Council dari Mennonite Church USA bersama dengan African American Mennonite Association, Iglesia Menonita Hispaña, Native Mennonite Ministries, dan African Belizean Caribbean Mennonite Mission Association. Sungguh, Tuhan itu ada, ajaib, dan sangat mengasihi kita semua. Amin.

Filed Under: Articles, Call to Ministry Stories Tagged With: Call to Ministry Story, JKI Anugerah, JKIA, Virgo Handojo

Berpijak Keluar dengan Iman… Kedalam Jalan Sempurna Tuhan

February 18, 2021 by Cindy Angela

Baca versi original artikel ini dalam Bahasa Inggris: Stepping Out in Faith… Into God’s Perfect Way
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Cindy Angela

Saya dilahirkan di Indonesia di tengah keluarga yang sangat “pastoral”. Kakek, ayah, dan tante-tante saya semuanya adalah pendeta. Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Saya bersyukur bahwa orang tua saya mengenalkan saya kepada kekristenan dari usia dini.

Rumah kami terletak disebelah gedung gereja pada saat saya tumbuh besar. Karena itu, saya jarang melewarkan aktifitas gereja. Dimulai dari kelas tujuh, saya sudah terlibat dalam pelayanan Sekolah Minggu. Kemudian saya menjadi aktif dalam pelayanan musik.

Foto profil Steve Zacheus.

Walaupun saya tidak pernah dilatih secara formal dalam musik, namun saya menemukan panggilan saya didalamnya. Saya mengajarkan diri saya sendiri untuk bermain instrumen-instrumen musik. Saya mau mengangkat hal yang saya sukai (musik) dan menggunakannya untuk melayani orang lain. Selulusnya saya dari SMA, saya memutuskan untuk mengambil jurusan musik gereja di sebuah universitas Kristen di Yogyakarta.

Setelah lulus kuliah ditahun 1997, saya melayani sebuah gereja di Jakarta. Kadang-kadang, saya juga melayani di kampung halaman saya.

Di dalam periode waktu ini, saya bertemu orang Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Dia sering melayani di Indonesia dan adalah anggota dari JKI Anugerah di Sierra Madre, CA. Singkat cerita, dia mengundang saya untuk pindah ke Amerika Serikat dan menyeponsori saya untuk sekolah di Calvary Chapel Bible College.

Proses yang panjang harus saya lalui sebelum saya bisa memijakkan kaki di Amerika Serikat. Aplikasi visa saya ditolak tiga kali. Akhirnya, di tahun 2000, visa pelajar saya diterima. JKIA adalah gereja pertama yang saya hadiri di AS dan masih menjadi gereja saya sekarang.

Walaupun saya tumbuh dikelilingi banyak pendeta dan pelayan gereja, panggilan saya untuk ordinasi adalah proses gradual dimana Tuhan menunjukkan kesabaran-Nya kepada saya untuk menjawab kasih karunia-Nya.

Pada 12 Januari 2003, saya mendapatkan kredensial di Pacific Southwest Mennonite Conference di JKIA dan melayani dalam departemen musik. Tanggung jawab utama saya adalah memimpin tim musik dan kelompok persekutuan (small groups). Walaupun saya bersukacita dalam melayani Tuhan, saya tidak yakin apakah saya mau mengambil langkah maju dalam ordinasi.

Satu hal yang saya tahu melalui setiap musim hidup saya, adalah bahwa saya bisa percaya dan berlindung dalam naungan Tuhan. Dia selalu setia kepada saya. Dia menunjukkan kasih-Nya dengan memimpin saya setiap kali saya ditengah situasi yang menantang. Melalui kasih-Nya, Dia memanggil saya terus menerus sehingga saya beriman untuk mengikuti panggilan-Nya. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1, TB).

Ordinasi Steve Zacheus pada bulan Oktober 2020, difoto dengan Jeff Wright (Leadership Minister).

Akhirnya saya mendapatkan keyakinan dalam diri saya bahwa kita semua dipanggil Tuhan untuk melayani Dia semampu kita. Menjadi hamba Tuhan adalah respon kita terhadap kasih Tuhan. Cara terbaik untuk saya meresponi kasih Tuhan adalah untuk melayani Dia dengan semua talenta yang Dia telah percayakan kepada saya. Selama ini Dia telah bersabat, menunggu saya untuk mempersiapkan diri.

Pada 25 Oktober 2020, saya di ordinasi oleh Konferensi Mosaic. Ini adalah bab baru dalam pelayanan saya. Karena Tuhan begitu setia selama ini, saya percaya bahwa Dia akan tetap memimpin saya dalam perjalanan iman ini. Pekerjaan Tuhan belum selesai dalam hidup saya.

“Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” (Ibrani 11:40, TB). Sebagai umat manusia, seringkali rasa ragu atau ketakutan menghantui kita, namun seperti perkataan Tuhan mengingatkan kita semua, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yohanes 4:18, TB).

Kasih Tuhan memimpin saya dalam melangkah keluar dengan iman menuju jalan-Nya yang sempurna.

Filed Under: Articles, Call to Ministry Stories Tagged With: JKI Anugerah, Steve Zacheus

Primary Sidebar

  • Halaman Utama
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Staff
    • Dewan & Komite
    • Petunjuk Gereja & Pelayanan
    • Memberi
    • Tautan Mennonite
  • Media
    • Artikel
    • Informasi Berita
    • Rekaman
    • Audio
  • Sumber daya
    • Tim Misi
    • Antar Budaya
    • Formasional
    • Penatalayanan
    • Keamanan Gereja
  • Peristiwa
    • Pertemuan Konferensi
    • Kalender Konfrens
  • Institut Mosaic
  • Hubungi Kami

Footer

  • Home
  • Hubungi Kami
  • Pertemuan Konferensi
  • Visi & Misi
  • Sejarah
  • Formasional
  • Antar Budaya
  • Tim Misi
  • Institut Mosaic
  • Memberi
  • Penatalayanan
  • Keamanan Gereja
  • Artikel

Copyright © 2025 Mosaic Mennonite Conference | Privacy Policy | Terms of Use