• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer

Mosaic MennonitesMosaic Mennonites

Missional - Intercultural - Formational

  • Halaman Utama
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Staff
    • Dewan & Komite
    • Petunjuk Gereja & Pelayanan
    • Memberi
    • Tautan Mennonite
  • Media
    • Artikel
    • Informasi Berita
    • Rekaman
    • Audio
  • Sumber daya
    • Tim Misi
    • Antar Budaya
    • Formasional
    • Penatalayanan
    • Keamanan Gereja
  • Peristiwa
    • Pertemuan Konferensi
    • Kalender Konfrens
  • Institut Mosaic
  • Hubungi Kami
  • 繁體中文 (Cina)
  • English (Inggris)
  • Việt Nam (Vietnam)
  • Español (Spanyol)
  • Indonesia
  • Kreol ayisyen (Creole)

Articles

Perayaan Ulang Tahun dan Potluck

February 17, 2022 by Cindy Angela

Perayaan dan makan bersama adalah bagian dari ibadah yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan berjemaat, khususnya dikalangan gereja-gereja Indonesia di Amerika Serikat. Selain perayaan natal dan paskah, ada satu perayaan yang tidak kalah penting, yaitu ulang tahun gereja.

JKI Anugerah, Sierra Madre, CA merayakan ulang tahun gerejanya yang 29 tahun 

Ada sebuah pepatah yang berkata sesuatu yang dirayakan akan terus terulang. Perayaan akan mengundang suatu suasana positif dan sebagai manusia ketertarikan untuk berkumpul dan merayakan sesuatu bersama kelompok adalah sebuah kebutuhan kita sebagai manusia sosial. Oleh sebab itu perayaan ulang tahun baik pribadi maupun gereja adalah sesuatu yang dinantikan.

Indonesian Light Church Philadelphia (ILC) menjadi gereja Indonesia di Konferensi Mosaik pertama yang merayakan ulang tahunnya di tahun 2022 ini. Pada tanggal 29 January kemarin ILC merayakan ulang tahunnya yang ke 10, menandakan satu dekade pelayanan ILC di kota Philadelphia. Dikarenakan menunggu gelombang Varian Omicron mereda diantara jemaat, perayaan ditunda menjadi tanggal 6 February kemarin. Seperti biasa perayaan diawali dengan ibadah dan dilanjutkan dengan makan makan bersama.

Juga pada bulan February ini, tanggal 27 February 2022, Philadelphia Praise Center akan merayakan ulang tahun gereja yang ke 17 tahun. Undangan makan makan bersama pun juga diucapkan oleh Ps Aldo Siahaan, “Kita akan membuka rumah (gereja) kita untuk keluarga dan teman dan kita akan menaruh meja dan diisi makanan dimana kita akan fellowship bersama-sama.” Tentunya pilihan untuk membawa makanan pulang tersedia dikarenakan situasi pandemi yang masih belum sepenuhnya tuntas. PS Aldo juga membuka bagi para jemaat yang ingin menyumbang makanan (potluck).

Potluck, merupakan sebuah istilah dari bahasa Inggris, menggambarkan pesta dimana setiap hidangan merupakan kontribusi dari semua yang hadir pada saat ini. Potluck pun menjadi sebuah tradisi hampir disetiap perayaan yang ada. Potluck bisa dibagi sesuai dengan jenis makanan, minuman atau juga bisa satu jenis makanan tetapi banyak yang berkontribusi.

Undangan ulang tahun ke 17 gereja Philadelphia Praise Center.

Sebuah contoh menarik yaitu pada ulang tahun ke sepuluh ILC, menu yang dipilih jemaat ILC adalah adalah Soto betawi. Dan setiap dari jemaat berkontribusi dalam menyiapkan bahan bahannya kuah dan daging, emping, kentang goreng, sayuran-sayuran, kecap, bawang goreng, sambel, semua disiapkan oleh orang orang yang berbeda, dan kemudian disatukan dan dihidangkan menjadi soto yang begitu lezat.

Ps Jeanne Handojo bersama Ibu-Ibu dari JKIA menyiapkan makanan  

Selain makanan dan ramah tamah, Tentunya doa dan disiplin rohani pun juga menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ini. PPC mengundang jemaat untuk mengambil bagian dalam doa dan puasa dalam menyambut ulang tahun kali ini. Sedangkan ILC kembali mempertegas dan membagikan visi dan misinya kepada jemaat untuk dihidupi di tahun tahun kedepan.

ILC merayakan Ulang tahunnya yang ke 10

Sekedar pengingat berikut tanggal hari ulang tahun Gereja gereja Indonesia yang berada di bawah payung Mosaic Mennonite Conference:

  • BECC New York, 26 April,
  • International Worship Church, California, 7 May
  • Nation Worship Center, Philadelphia, 30 May
  • JKIA, California, 20 September
  • ICCF, California, 13 November

Mohon dicatat tanggal tanggal berikut, biasanya perayaan akan mengambil hari minggu terdekat dari tanggal ulang tahun tersebut. Mari sama sama merayakan,berpatisipasi dalam potluck dan mendukung dalam doa supaya semua gereja gereja-Nya bukan saja panjang umur tetapi juga menjadi berkat bagi banyak orang, Berdoa juga agar pandemi ini cepat berakhir,Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual

Mendengar dengan Kerendahan Hati

January 19, 2022 by Cindy Angela

Rencanakanlah sebuah liburan yang ideal untuk pasangan anda atau teman dekat anda. Jika budget dan waktu tidak terbatas apa yang akan anda berikan? Setelah itu mintalah pasangan anda atau teman dekat anda melakukan hal yang sama untuk anda. Aktifitas singkat ini adalah salah satu bagian dari latihan singkat bagaimana ternyata penting bagi kita semua untuk bisa mendengar, mengerti dan memahami orang lain.

Jujur ketika saya melakukan aktifitas ini secara otomatis keinginan sayalah yang ingin saya ajukan pertama kali. Dan tentunya asumsi saya tentang apa yang saya anggap baik buat pasangan atau teman saya. Asumsi dan proyeksi mengambil andil besar dalam saya merencenakan liburan ideal ini. Dan ini belum tentu baik, dan dalam beberapa kasus malah membahayakan.

Bagaimana jika kita malah merencanakan liburan ideal yang malahan membuat pasangan kita atau teman kita menghidupi kembali trauma trauma masa lalu mereka yang sebenarnya belum mengalami pemulihan? Liburan ideal bagi kita bisa menjadi petaka bagi orang lain.

Sebenarnya aktifitas ini ingin menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dan juga pentingnya kita sebagai pribadi mendengarkan apa yang menjadi “passion” atau trauma dari orang lain. Mendengarkan adalah langkah awal kita bisa mengerti dan memahami seseorang. Mendengarkan adalah bagian penting dari komunikasi. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Matius 13:9)

Dalam sesi workshop, “Mendengarkan sebagai sebuah perlawanan” (Listening as an act of resistance), di Kelas training kepemimpinan (SLT, kerja sama antara EMU dan Inverse Podcast), Amber Bryant membagikan mengenai tindakan kita mendengarkan sebagai sebuah perlawanan terhadap:

  • Model bantuan yang mengatakan bahwa kita harus menindas dan diam untuk membantu dan bersikeras bahwa kebutuhan adalah hasil dari ketidakmampuan dan ketidakadilan (mengabaikan cerita dan konteks)
  • Memberi makan ke dalam narasi bahwa manusia ada di semacam bidang hierarkis dalam kaitannya satu sama lain dan bahwa kita entah bagaimana tidak semua dibuat dalam citra ilahi.
  • (bagi orang Amerika terutama) gagasan bahwa kita entah bagaimana adalah protagonis dalam cerita adalah kita dan bukan Tuhan.

Dibutuhkan kerendahan hati untuk kita bisa mendengarkan dengan baik. Jika kita mendengarkan dengan rendah hati maka:

  • Akan membantu kita melihat konteks dan latar belakang dengan baik
  • Memperbaiki narasi yang melengkung sehingga kembali ke bentuk yang semula sesuai dengan rencana Tuhan
    • Kita melihat dari sudut pandang yang berbeda dari diri kita sendiri (seseorang yang buta warna hanya bisa mengetahui bahwa ia buta warna ketika ia berbicara dengan orang yang tidak buta warna)
    • Mengecek bias dalam diri kita. Sebuah refleksi pribadi sebelum merusak hubungan dengan orang lain.
  • Menanam, merawat dan membangun kepercayaan
  • Menghubungkan kita sebagai manusia
    • Ketika kita mendengarkan dengan kerendahaan hati, dan percaya penilaian kita terhadap konteks yang ada, kita bisa mendengar dengan benar dan melihat dengan sudut pandang yang tepat
    • Sebelum kita menolong orang lain, lebih baik kita bertanya terlebih dahulu (komunikasi dan keintiman membantu kita untuk bisa menolong dengan lebih baik)

Mari kita menjadi pendengar yang baik, selain mendengarkan tuntunan Tuhan melalui Roh kudus, kita juga perlu mendengar orang lain dengan kerendahan hati. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Paul Gorski, yang berjudul “Intensi yang baik tidak cukup” (Good Intentions are not enough) dijabarkan lebih jelas lagi bagaimana niat baik saja tidak cukup jika kita ingin menolong dan menjadi berkat bagi banyak orang (Bisa dibaca disini dalam bahasa Inggris)

Saya percaya kita bisa menjadi murid murid Yesus yang relevan dan menjadi berkat jika kita belajar mendengarkan dengan kerendahan hati. Tuhan Yesus memberkati.

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual

Mengikut Yesus di Tahun 2022

January 5, 2022 by Cindy Angela

Apa menjadi resolusi anda di tahun baru ini? Harapan harapan apa yang anda miliki? Ibrani 6:19 berkata Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Harapan adalah sesuatu yang membuat kita meninggalkan masa lalu dan hidup menyambut masa depan. Dan Tuhan Yesuslah pribadi dimana kita menaruh harapan hidup kita, baik sekarang maupun di masa depan.

Sebagai Anabaptis-Mennonite, Tuhan Yesus selalu menjadi pusat dalam kehidupan kerohaniaan kita. Baik dalam membaca Firman Tuhan, sampai dengan dalam hidup berjemaat, Tuhan Yesus adalah fokus utama dimulai dari menerima-Nya sebagai Tuhan dan juru selamat, sampai dengan meneladani pelayanan beliau, memikul salib dan menjadi agen rekonsiliasi dan pendamai di dunia ini.

Karena Tuhan Yesuslah yang pertama kali memperbaiki hubungan kita dengan Allah Bapa disurga, oleh sebab itu ia pun memanggil kita untuk menjadi pendamai di dunia yang hancur karena dosa ini. Ditengah tengah pergumulan hidup kita, pandemi, ketidakadilan rasial dan sosial, krisis kemanusiaan dan ekonomi, kekerasan bersenjata, bencana alam, Janji Tuhan memberikan harapan bahwa kelak Ia akan datang memulihkan secara sempurna dan menjadi Raja yang adil bagi dunia ini. Inilah yang kita nanti nantikan sebagai orang Kristen, saat dimana Anak Domba Allah dipermuliakan dan ditinggikan di seluruh bumi.

Menjadi Mennonite Anabaptis bukan berarti kita harus mengadopsi gaya hidup orang kulit putih keturunan Swiss-Jerman, tetapi hendaknya kita menjadi saksi Yesus dan agen rekonsiliasi dengan keunikan budaya masing masing dimana Tuhan membentuk kita sejak dari kecil sampai dengan hari ini. Sekali lagi kesatuan bukanlah keseragaman, kita adalah Mosaik indah ciptaan-Nya berbeda tetapi tetap satu.

Pastor Jaye dan Pastor Hendy menggunakan seragam tim footbal kota asal masing-masing.

Menjadi pengikut Yesus bukan berarti kita menjauhkan diri dari keramaian dan berusaha hidup sebagai pertapa, melainkan hendaknya kita menjawab kebutuhan orang orang yang memerlukan pertolongan di tempat dimana mereka berada. Orang orang terhilang, terbelakang dan terakhir yang memerlukan kasih Yesus melalui kasih dan keperdulian kita.

Pembagian bahan makanan di kota Makasar,Indonesia untuk keluarga yang terdampak Covid-19, menggunakan sebagian dana Shalom Fund Mosaic Conference.

Sebuah kesempatan baik di tahun 2022 untuk kembali memfokuskan hidup kita kepada Tuhan Yesus, baik kerohaniaan pribadi dan meneladani pelayanan beliau 2000 tahun yang lalu, Dia datang untuk melayani bukan dilayani, Dia datang untuk mengasihi bukan menguasai. Mari memasuki tahun 2022 dengan sauh yang kuat yang tidak akan pernah goyah. Amin.

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual

Terusir Banjir, Dibanjiri Bantuan

January 5, 2022 by Conference Office

Diterjemahkan oleh Hendy Matahelemual

Pada awal September 2021, Badai Ida merendam Pantai Timur. Di daerah sekitar Gereja Mennonite Blooming Glen (PA), banjir bandang menyebabkan kerusakan luas pada banyak rumah dan tempat usaha. Pennridge Ministerium dari gereja-gereja lokal bekerja sama dengan lembaga layanan sosial untuk mencoba dan membantu mereka yang mengalami musibah banjir keluar dari rumah mereka.

Dengan tidak adanya perumahan lokal yang terjangkau dan bisa menampung, pada awalnya, banyak keluarga pengungsi tinggal di hotel, kadang-kadang sangat jauh dari komunitas rumah mereka. Solusi ini menyebabkan ketidaknyamanan besar dan biaya tambahan yang terkait dengan perjalanan kerja, mengangkut anak-anak ke sekolah, dan memberi makan keluarga mereka (hotel tidak memiliki dapur).

Gereja berpartisipasi dalam jaringan keramahtamahan antaragama dalam beberapa tahun terakhir ini, dan gereja kami memiliki ruang kelas dengan kamar mandi yang berdekatan. Apa yang bisa kami tawarkan dalam hal penginapan sementara di gedung kami?

Bekerja dengan pekerja sosial distrik sekolah, sebuah keluarga diidentifikasi membutuhkan ruang hidup sementara. Dan begitulah cara kami bertemu Noe dan Margarita dan anak-anak mereka, Noe (putra), Neftaly, dan Scarlett, yang tinggal di gedung gereja kami selama hampir tiga bulan.

Margarita menggambarkan bagaimana properti sewaan mereka kebanjiran. “Rumah kami berjarak 1/4 mil dari sungai, jadi pada awalnya, kami tidak berpikir apa pun akan terjadi ketika hujan mulai turun. Kami tinggal 17 tahun di rumah itu dan tidak ada banjir! Tapi air terus naik!”

Sang anak perempuan, Neftaly menambahkan, “Tiba-tiba, jalan menuju rumah kami tertutup air. Aku bilang pada ibu, kita tidak bisa keluar!” Air menutupi lantai pertama rumah mereka dan semua perabotan dan tempat tidur keluarga hilang.

Mereka menghabiskan malam pertama itu tanpa rumah di rumah landlord mereka. Kemudian mereka tinggal bersama teman-teman yang membuka rumah mereka untuk mereka. “Itu sepuluh orang dari dua keluarga yang tinggal di ruang kecil,” jelas Noe. “Kami melihat tetapi tidak dapat menemukan tempat untuk pindah dan tinggal di distrik sekolah dan dekat pekerjaan kami. Semua yang kami lihat harganya terlalu mahal atau membutuhkan sewa yang panjang. “

“Tiba-tiba, jalan menuju rumah kami tertutup air. Aku bilang pada ibu, kita tidak bisa keluar!”

Setelah kepemimpinan Blooming Glen memproses kemungkinan secara internal, mereka menghubungi pekerja sosial Pennridge School. “Kemudian pekerja sosial sekolah menghubungkan kami dengan Blooming Glen,” lanjut Noe. “Saya tidak berpikir bahwa hal seperti itu mungkin, bahwa akan ada orang-orang yang bahkan tidak mengenal kami, namun akan membantu kami.”

Dengan kontribusi perabot rumah dari Care &Share Thrift Shoppes, jemaat, dan gereja-gereja daerah lainnya, beberapa ruang kelas yang berdekatan diubah menjadi kamar tidur. Sofa dan meja kopi mengubah lobi kelas menjadi ruang tamu. Keluarga itu pindah ke rumah sementara mereka.

Keluarga telah bergabung dengan jemaat untuk kebaktian hari Minggu dan makanan persekutuan, dan jemaat telah mengenal keluarga karena mereka telah membawa makanan malam untuk dibagikan bersama.

“Ini adalah pengalaman yang baik tinggal di sini,” Neftaly berkomentar, “Saya telah membuat teman-teman baru dalam kelompok pemuda.” Neftali juga telah bersiap untuk mendapatkan SIM-nya, dan seperti remaja yang tak terhitung jumlahnya sebelum dia, telah berlatih mengemudi di tempat parkir gereja yang besar dan kosong.

“Saya ingin tinggal di sini dan tidak kembali ke rumah kami!” kata Scarlett yang berusia 7 tahun. “Saya selalu bersemangat untuk pergi ke sekolah Minggu untuk melihat teman-teman baru saya. Saya membawa Alkitab pertama saya ke sekolah dan membacanya untuk teman-teman saya.”

(dari kiri ke kanan) Noe, Margarita, Scarlett, Noe, dan Neftali pada kebaktian Malam Thanksgiving di Blooming Glen Mennonite Church. Foto oleh Mike Ford.

Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi semua yang terlibat, dan Blooming Glen sedang mempertimbangkan kemungkinan berkelanjutan untuk menyediakan perumahan darurat jangka pendek.

“Kami telah bertemu banyak orang baik di sini, dan kami bersyukur menerima bantuan,” jelas Margarita. “Saya tidak berpikir ada yang akan membantu kami seperti itu pada saat kami membutuhkan. Tapi kami membutuhkan tempat tinggal, dan anda menyediakannya. “

Filed Under: Articles Tagged With: Blooming Glen, Blooming Glen Mennonite Church, Mike Ford, missional

Pertemuan Bangsa-Bangsa dan Generasi

December 2, 2021 by Cindy Angela

Pada tanggal 18 November 2021, delapan orang pelayan Indonesia dan satu hispanik bergabung dalam acara Pertemuan “bangsa-bangsa dan generasi” yang ketiga. Dari berbagai penjuru Amerika Serikat, baik dari Philadelphia, Allentown, California bahkan dari Dallas, TX kami bertemu melalui Zoom.

Acara ini merupakan acara tahunan yang diadakan oleh Mosaic Mennonite Conference untuk menjalin solidaritas dan membuat ruang yang aman bagi pemimpin kulit berwarna / mayoritas global / non kulit putih untuk dengan berani saling berbagi cerita dan saling menguatkan satu sama lain.

Pertemuan yang sama juga diadakan dalam grup dan bahasa yang berbeda, bahasa Inggris dan bahasa Spanyol yang diadakan di hari dan jam yang berbeda. Kami melakukan pertemuan ini via zoom dikarenakan alasan kesehatan. Kami sebenarnya rindu untuk bertemu langsung, semoga tahun depan kita bisa melakukannya.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ps Aldo Siahaan, dan dilanjutkan oleh pujian penyembahan yang dipimpin oleh Ps Danilo Sanchez, yang membawakan lagu “Rohmu yang hidup”, Ya, Roh Tuhan hidup di dalam kita memberi kita kekuataan. Meskipun kami adalah imigrant dan pendatang yang berada di budaya yang asing, kami percaya Roh Tuhan akan membuat kita bertahan dan menjadi berkat bagi bangsa bangsa.

Ps Hendy, membuka sharing singkat dengan Mengutip dari Pengakuan Iman Mennonite artikel ke 10 : Orang Kristen adalah orang asing dan pendatang dalam semua budaya. Namun gereja sendiri adalah bangsa Tuhan,yang mencakup orang orang yang datang dari setiap suku dan bangsa. Misi gereja adalah untuk mendamaikan kelompokkelompok yang berbeda, menciptakan satu umat manusia baru dan memberikan visi di masa depan bahwa suatu hari semua bangsa akan datang ke gunung Tuhan dan berdamai.

Transformasi dan Rekonsiliasi antar budaya diperlukan karena mengutip kutipan dari Dr. Martin Luther King Jr yang berkata “Kita harus menghadapi kenyataan menyedihkan bahwa pada pukul sebelas pada hari Minggu pagi ketika kita berdiri untuk bernyanyi. Kita berdiri di jam dimana umat Kristen paling terpisah di Amerika.” Setelah sharing singkat, pertanyaan diskusi dibagikan, “Apa harapan kita untuk masa depan gereja dan generasi kita masing masing sebagai pendatang dan minoritas?

Ps Virgo Handojo membagikan hasil penelitiannya, mengenai gereja pendatang. Dalam penelitian beliau mengungkapkan bahwa ada 4 jenis model, yang pertama adalah Gereja Separasi, gereja yang misalnya sangat Indonesia sekali dan tidak mau ikut campur dengan budaya lokal di Amerika, model kedua, adalah model Marginal, dimana sama sekali tidak mau menghargai identitas asli dan juga tidak mau mengikuti budaya Amerika, model ketiga adalah Asimilasi, hanya mau mengikuti budaya Amerika saja, dan yang keempat yang ideal adalah Gereja Integrasi, multikulurtural, dimana tetap menghargai identitas Indonesia tetapi juga sangat involve dan terkait dengan budaya Amerika Serikat.

Menjawab pertanyaan diskusi Ps Budi Hananto berbagi cerita pengalamannya berhadapan dengan pemimpin gereja dan jemaat dari budaya yang berbeda, dan bagaimana beliau menjelaskan bahwa kita ini adalah bagian dari tubuh Kristus yang Tuhan ciptakan unik tetapi harus bersatu.

Tema budaya dan kewarganegaraan pun sempat dibahas, bagaimana seseorang bisa saja sudah menjadi warganegara asing tetapi tetap secara budaya masih sangat Indonesia. Banyak juga pembicaraan dan pertanyaan diajukan mengenai bagaimana menjangkau generasi generasi muda yang secara budaya berada diantara dua budaya yang berbeda.

Pak Hadi Sunarto sempat juga mengatakan bahwa kita sebagai pendatang sudah mengalami apa yang dinamakan mutasi, berubah dan tidak sama lagi dengan orang Indonesia yang masih ada di Indonesia, Ps Beny Krisbianto pun menambahkan dengan sebuah guyonan bahwa, “kita ini sebagai orang Indonesia, Indonesianya sudah lewat tetapi Amerikanya belum sampai,” menggambarkan transisi antara dua identitas budaya.

Pertemuan berlangsung sangat hidup, menarik dan saya percaya kami semua yang hadir merasa terbekali dan mendapatkan dukungan dan inspirasi dari cerita-cerita yang dibagikan, banyak bahasa baru dan juga sudut pandang yang segar dalam melihat generasi dan bangsa khususnya kami sebagai pendatang di Amerika ini. Pertemuan ditutup oleh doa dari Ps Budi Hananto, dan kami mengakhiri pertemuan ini dengan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi generasi dan bangsa bangsa.

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual, Nations and Generations, Pertemuan Bangsa-Bangsa dan Generasi

Berbagi dan Bermimpi

December 2, 2021 by Conference Office

Saya bersyukur memimpin kelompok Bangsa dan Generasi dalam bahasa Spanyol pada 20 November. Rasanya seperti pertemuan keluarga. Dengan cara yang sama bahwa tidak cukup banyak orang yang tahu sejarah Mennonites Hitam, tidak cukup banyak orang yang tahu sejarah Mennonites Latino yang terhubung dengan Konferensi kami.

Kami menghabiskan sebagian besar waktu kami merenungkan kitab suci dan tema dari Pertemuan Tahunan, Roma 12: 1-8 dan transformasi bersama. Kita mencatat cara-cara bahwa kita semua saling membutuhkan dan semuanya diubah menjadi gambar Kristus.

Kami mengakhiri waktu kami dengan berbagi harapan dan impian kami untuk Konferensi Mosaic. Ada beberapa hal praktis besar yang bisa kita kerjakan, tetapi dua mimpi menonjol bagi saya.

Pertama adalah keinginan untuk memiliki lebih banyak bahasa Latin pada staff Mosaic. Ada sekelompok besar latinas di Philly Selatan dan misi berkembang di Tijuana, Meksiko. Mereka menginginkan dukungan, sumber daya, dan representasi dalam kepemimpinan. Situasi ini dibandingkan dengan cerita dalam Kisah Para Rasul 6 dan kata-kata, “Perhatikan yang tidak dijaga” dinyatakan.

Mimpi kedua adalah bahwa/itu pertemuan ini suatu hari nanti tidak lagi diperlukan. Kita memimpikan hari ketika Konferensi Mosaik akan begitu bersatu seperti tubuh Kristus sehingga kita hanya akan melihat “kita” dan “kami.”

Kita memimpikan hari ketika Konferensi Mosaik akan begitu bersatu seperti tubuh Kristus sehingga kita hanya akan melihat “kita” dan “kami.”

Karena semua Konferensi Mosaik bekerja untuk saling diubah, semoga demikian.

Filed Under: Articles Tagged With: Danilo Sanchez, Nations and Generations, Nations and Generations Gathering

Pertemuan di Meja

December 2, 2021 by Conference Office

Saya sangat percaya pada kesengajaan Tuhan. Pada tanggal 15 November, saya senang berkumpul dengan sekelompok kecil orang yang beragam dari Konferensi Mosaic kami untuk pertemuan yang berjudul, Bangsa dan Generasi. Tidak jelas dengan tujuan kami pada awalnya, saya dengan cepat menyadari ini adalah pekerjaan transformasional yang sedang berlangsung.

Ini adalah keyakinan saya, bahwa dengan penunjukan ilahi, mereka yang ada di sani untuk sesi ini memang dimaksudkan untuk berada di sini. Ada beberapa rasa sakit dan kebutuhan yang jelas untuk penyembuhan. Penyembuhan dari melihat dan mengalami ketidakadilan rasial di ruang suci ini. Ada kesedihan dan penyesalan disini. Kesedihan dan penyesalan yang lahir karena rasa bersalah oleh asosiasi. Kepahitan memiliki tempat duduk di meja. Kepahitan yang telah tumbuh dari tahun-tahun sakit dari masa yang lalu.

Ada orang-orang yang ingin melupakan dan ada mereka yang ingin mengingat. Mereka yang merasa seperti orang dalam dan mereka yang merasa seperti orang luar. Ada orang-orang yang memiliki keinginan mendalam untuk transparansi, kepercayaan, dan kebenaran.

Tapi yang paling penting, Harapan ada di meja. Berharap… Bahwa suatu hari kita akan duduk di meja yang satu di mana kekuasaan, sumber daya, dan pengambilan keputusan didistribusikan secara merata. Di mana tidak ada mereka dan kita. Hanya satu bangsa di bawah Tuhan untuk generasi yang akan datang.

The Generations that make up Mosaic Conference, with all its broken pieces, need to Generasi yang membentuk Konferensi Mosaic, dengan semua potongannya yang rusak, harus berada di meja. Bagi mereka yang ingin melupakan, biarkan para tetua membantu mereka mengingat. Ingat yang baik untuk nilainya dan yang buruk sehingga tidak terulang.

Kebutuhan yang diidentifikasi oleh Pertemuan Bangsa & Generasi ini:

  • Bahu mengetuk untuk mengumpulkan bangsa-bangsa dan generasi bersama-sama.
  • Realisasi dari bahasa yang berbeda, tetapi hati yang bersatu.
  • Berbagi kekuasaan, sumber daya, pengambilan keputusan.
  • Menyadari bahwa ada Sejarah Mennonites Kulit Hitam.
  • Pengakuan atas semua sejarah yang dibangun dalam Konferensi.
  • Jadilah perubahan yang kita bicarakan.
  • Kita harus terlibat dalam percakapan jujur yang mengarah pada pengampunan, bukan menyapunya di bawah karpet.
  • Kita ingin belajar untuk menjalani contoh Yesus yang mengundang semua orang ke meja. Bertemu dengan mereka di mana mereka berada dalam bahasa mereka. Yesus tahu bahwa Dia tidak dapat berdamai dengan orang-orang jika Dia memandang rendah mereka, merendahkan, atau menggurui. Sebaliknya, Yesus ingin mengenal mereka dalam konteksnya.
  • Kita harus melihat konferensi kita secara keseluruhan. Mereka yang telah ada sejak lama, baik orang kulit putih maupun orang kulit berwarna, memiliki pemikiran tentang konferensi yang benar-benar mosaik. Mereka yang telah membuka jalan dalam iman Mennonite, kami membutuhkan anda di meja ini. Anda memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang berharga untuk dibagikan. Anda membawa sejarah. Semua nuansa membawa kehidupan.

Filed Under: Articles Tagged With: Charlene Smalls, Nations and Generations, Nations and Generations Gathering

Perenungan di Perbatasan

November 23, 2021 by Cindy Angela

Beberapa waktu lalu ketika saya mendapat tugas untuk pergi ke California, saya mendapat ide untuk menyempatkan diri mengunjungi perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko. Jarak yang hanya kurang lebih dua jam dari tempat saya tinggal membuat lokasi ini begitu menarik hati saya lebih dari semua tempat wisata yang ada di negara bagian ini.

Bertempat disebelah selatan kota San Diego, adalah kota Tijuana, Meksiko, dimana uniknya perbatasan ini disebelah barat membelah satu pantai menjadi terletak di dua negara yang berbeda. Pemandangan yang menarik melihat sisi Meksiko yang begitu ramai wisatawan dan tampak lebih menarik dan hidup, sedangkan sisi Amerika begitu sepi, tidak terawat dan hanya ada penjaga perbatasan saja.

Sangat dimaklumi perbatasan bukanlah tempat menarik di negara bagian California, jauh jika dibandingkan dengan Disneyland dan Hollywood. Tetapi disinilah saya memutuskan untuk mengambil waktu untuk berdoa, mengambil saat teduh dan merenungkan firman Tuhan.

Bagian barat perbatasan As-Meksiko menghadap samudra pasifik. Foto diambil dari Taman Border Field diluar San Diego. Foto oleh Hendy Matahelemual.

Ayat yang menjadi perenungan saya diambil dari Imamat 19:33-34 “Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.”

Meski ayat ini diperuntukan untuk bangsa Israel kurang lebih 3000 tahun lalu, tetapi saya percaya ayat ini sangat relevan ditujukkan bagi kita semua pada hari ini. Terlebih lagi bagi kita yang percaya kesatuan dan otoritas tertinggi ada di dalam iman kita sebagai pengikut Yesus Kristus.

Tembok Perbatasan Amerika Serikat-Meksiko dari sisi Amerika Serikat. Foto oleh Hendy Matahelemual.

Menjadi orang asing dan minoritas dalam sebuah budaya dominan memiliki tantangan tersendiri yang tidak mudah. Dimulai dari bahasa sampai dengan peraturan yang tidak memanusiakan manusia demi memuaskan rasa aman mengatasnamakan kepentingan kolektif, supremasi hukum dan kedaulatan negara. Tentunya inilah sistem yang ada di dunia ini, sistem negara kesejahteraan, yang bertujuan mensejahterakan warga negaranya, dengan konsekuensi logis tentunya menomor duakan pendatang.

Tetapi tentunya kedaulatan setiap negara memiliki dinamika kekuatan yang berbeda. Sebagai contoh seseorang yang memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat akan sangat jauh lebih mudah masuk ke Indonesia, daripada warga negara Indonesia masuk ke Amerika Serikat.

Hal seperti inilah yang memicu banyak sekali orang melewati perbatasan khususnya menuju Amerika Serikat secara tidak resmi dan tidak melewati prosedur hukum yang ditentukan. Dikarenakan kecilnya kemungkinan mereka diperbolehkan untuk masuk jika mengikuti prosedur.

Data menunjukkan pada tahun 2021 sendiri ada sebanyak lebih dari 550 orang meninggal karena berupaya masuk ke Amerika Serikat melalui perbatasan AS-Meksiko. Dan dalam rentang tahun 1998 sampai dengan 2020 ada sebanyak 7000 kasus kematian, dan tentunya organisasi kemanusiaan memperkirakan bahwa angka ini jauh lebih tinggi dari yang tercatat.

Inilah yang ada dipikiran saya ketika saya berjalan menyusuri tembok pembatas yang ada, dengan hati yang sedih, saya juga terpikir betapa banyak anak dan orang tua yang terpisah di perbatasan. Presiden boleh berganti tetapi tetap sistem tidak terlalu banyak berubah.

Tembok Perbatasan Amerika Serikat-Meksiko dari sisi Amerika Serikat. Foto oleh Hendy Matahelemual.

Meninggalkan rumah menuju tanah asing merupakan keputusan yang sulit untuk diambil. Mencari rumah baru, melarikan diri dari bahaya, mencari keamanan dengan resiko yang besar guna mencari nafkan dan kehidupan yang lebih layak di tanah asing bukanlah pengalaman yang mudah.

Tuhan Yesus berkata,” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Tuhan Yesus mati buat seluruh umat manusia, marilah meneledani hidup Yesus.

Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Saya mau mengajak kita terus berdoa dan berpikir kritis tentang masalah kemanusiaan ini dan tentunya sedapat mungkin mari mengambil bagian menjadi tuan rumah yang baik di dalam konteks kehidupan kita masing masing. Siapakah orang asing pendatang yang ada disekitar kita? Siapakah orang yang terakhir, terkecil dan terhilang yang kita bisa lihat dan bantu? Tuhan Yesus memberkati mereka semua.

Filed Under: Articles, Blog Tagged With: Hendy Matahelemual

  • « Go to Previous Page
  • Go to page 1
  • Interim pages omitted …
  • Go to page 10
  • Go to page 11
  • Go to page 12
  • Go to page 13
  • Go to page 14
  • Interim pages omitted …
  • Go to page 18
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

  • Halaman Utama
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Staff
    • Dewan & Komite
    • Petunjuk Gereja & Pelayanan
    • Memberi
    • Tautan Mennonite
  • Media
    • Artikel
    • Informasi Berita
    • Rekaman
    • Audio
  • Sumber daya
    • Tim Misi
    • Antar Budaya
    • Formasional
    • Penatalayanan
    • Keamanan Gereja
  • Peristiwa
    • Pertemuan Konferensi
    • Kalender Konfrens
  • Institut Mosaic
  • Hubungi Kami

Footer

  • Home
  • Hubungi Kami
  • Pertemuan Konferensi
  • Visi & Misi
  • Sejarah
  • Formasional
  • Antar Budaya
  • Tim Misi
  • Institut Mosaic
  • Memberi
  • Penatalayanan
  • Keamanan Gereja
  • Artikel

Copyright © 2026 Mosaic Mennonite Conference | Privacy Policy | Terms of Use
Aligned with