• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer

Mosaic MennonitesMosaic Mennonites

Missional - Intercultural - Formational

  • Halaman Utama
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Staff
    • Dewan & Komite
    • Petunjuk Gereja & Pelayanan
    • Memberi
    • Tautan Mennonite
  • Media
    • Artikel
    • Informasi Berita
    • Rekaman
    • Audio
  • Sumber daya
    • Tim Misi
    • Antar Budaya
    • Formasional
    • Penatalayanan
    • Keamanan Gereja
  • Peristiwa
    • Pertemuan Konferensi
    • Kalender Konfrens
  • Institut Mosaic
  • Hubungi Kami
  • 繁體中文 (Cina)
  • English (Inggris)
  • Việt Nam (Vietnam)
  • Español (Spanyol)
  • Indonesia
  • Kreol ayisyen (Creole)

Articles

Kepingan Kampung Halaman

May 26, 2022 by Conference Office

Saat saya pertama kali pindah dari kota Surabaya ke kota Philadelphia, saya sempai cemas kalau saya akan kehilangan ke-Indonesiaan saya. Namun, saya cukup terkejut untuk menemukan kekayaan komunitas Indonesia di Philadelphia. Saya tidak pernah pusing untuk mencari bahan masakan Indonesia, restoran Indonesia, bahkan gereja berbahasa Indonesia.

Saya selalu tahu bahwa saya ingin menjadi bagian dari sebuah komunitas, dan saya mencari sebuah gereja untuk bertumbuh dan berkembang. Philadelphia Praise Center (PPC) adalah gereja pertama yang saya hadiri ketika saya pertama kali ada di Philadelphia, dan saya sudah menetap di gereja ini selama hampir satu decade. Melalui gereja ini, saya diperkenalkan akan menjadi seorang Mennonite dan dengan nilai-nilai anabaptisme. Saya dibaptis di ruang bawah tanah gereja di tahun 2016.

Foto disediakan oleh Cindy Angela

PPC adalah salah satu dari beberapa gereja Indonesia yang menjadi bagian dari Konferensi Mosaik. Selain PPC, ada 2 gereja Indonesia lain di Philadelphia Selatan, serta beberapa gereja lain di negara bagian New York dan California. Hanya setelah saya bekerja untuk Konferensi Mosaik-lah baru saya sadar bahwa ternyata banyak juga orang Mennonite di Indonesia, dan saya bersukacita saat mendengar pertemuan raya tahun 2022 Mennonite World Conference akan diadakan di kota Semarang, Indonesia.

Walaupun saya telah diubahkan dan mengalami transformasi setelah keputusan saya untuk mengikut Kristus, saya tidak pernah merasa bahwa saya harus menanggalkan kebudayaan Indonesia saya untuk membuat identitas baru. Namun, saya merasa diundang dan diterima untuk membawa sejarah saya, latar belakang saya dan budaya saya untuk turut serta dalam perjalanan saya dengan Kristus. Dan sekarang, saya ingin membagikan beberapa hal yang saya hargai tentang kebudayaan Indonesia yang masih saya bawa setiap hari.

“Bhinekka Tunggal Ika” 

Motto Indonesia adalah Bhinekka Tunggal Ika. Artinya adalah “berbeda-beda namun satu jua” dalam Bahasa Kawi.

Orang yang kurang familier dengan kebudayaan Indonesia selalu terkejut saat mereka mendengar bahwa: “Saya dan suami saya berasal dari Indonesia, tapi saya bisa berbicara dengan Bahasa yang sangat berbeda dari dia, bahkan dia tidak akan mengerti ucapan saya.”

Walaupun Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional Indonesia, masih ada lebih dari 300 bahasa daerah di Indonesia. Saya lahir dan dibesarkan di Surabaya, Jawa Timur, artinya saya juga bisa berbahasa Jawa. Banyak orang Indonesia yang bisa berbicara fasih dalam dua atau lebih bahasa.

Lebih dari bahasa, kita bisa melihat betapa beraneka ragamnya Indonesia terefleksikan dari makanan, kebiasaan, tradisi dan bahkan dari seni batik dari daerah-daerah berbeda. Perbedaan-perbedaan ini dilihat menjadi sebuah keindahan. Perbedaan inilah yang mempersatukan kita. Saya diingatkan oleh firman Tuhan dari Roma yang berbicara tentang hal ini:

“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” (Roma 12:4-5, TB)

“Gotong Royong” 

Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat komunal. Dimulai dari bagaimana kita mengambil keputusan, sampai bagaimana kita melakukan sesuatu. Dalam Bahasa Indonesia, adalah sebuah istilah yang sering dipakai yaitu gotong royong. Kata gotong artinya adalah “untuk membawa” sementara royong artinya “bersama / dengan orang banyak”.

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2, TB)

Gotong royong mengajarkan saya bahwa kita butuh satu sama lain untuk hidup, dan saya pikir bergotong royong bisa menjadi salah satu cara mejuwudkan kasih Kristus kepada orang-orang disekitar kita.

“Buah Tangan” 

Sejak saya masih kecil, Mama saya selalu mengingatkan saya: “jangan datang dengan tangan kosong.” Ada kebudayaan di Indonesia untuk selalu membawakan oleh-oleh atau buah tangan saat kita mengunjungi seseorang.

Itu bisa menjadi magnet kulkas, atau itu bisa dalam bentuk makanan. Oleh-oleh / buah tangan menunjukkan bahwa kita ingat dengan seseorang, dan kita ingin membagikan pengalaman kita kepada mereka.

Seperti buah Roh, kita bisa menanamkan kasih, sukacita, damai dan kebaikan kepada orang lain melalui “buah” tangan kita.

Photo by Cindy Angela

Hal-hal ini telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak dahulu kala, dan saya bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan untuk membagikan kepingan-kepingan dari kampung halaman saya kepada Anda semua. Bukanlah sebuah kebetulah bahwa Tuhan menciptakan dunia ini untuk ditenun sebegitu rupa dengan beragamnya budaya dan bahasa, dan saya menantikan bagaimana Tuhan akan terus bekerja untuk mentransformasi dan menyatukan kita semua melalui perbedaan kita.


Artikel ini pertama kali muncul di kolom blog MC USA dan dicetak ulang dengan izin.

Filed Under: Articles Tagged With: AAPI, Cindy Angela, Philadelphia Praise Center

Perjalanan Menuju Kesatuan Kristus

May 19, 2022 by Cindy Angela

Komunitas Indonesia di Philadelphia Selatan minggu lalu kembali menjadi tuan rumah sebuah acara makan siang bersama yang dihadiri oleh pemimpin kredensial Mosaik di Philadelphia. Tetapi acara makan siang ini bukan acara makan siang bersama karena kita kedatangan seorang tamu istimewa.  

Tamu istimewa itu tidak lain adalah Cesar Garcia yang menjabat sebagai Sekretaris Umum Konferensi Mennonite Sedunia. Beliau terbang dari Toronto, Canada, yang adalah dekat dengan lokasi kantor Pusat Konferensi Mennonite Sedunia. Kunjungan kali ini dalam rangkaian kunjungan kerja di Pantai Timur, AS.  

Foto oleh Cindy Angela

Setelah semua undangan hadir, acara dibuka oleh sambutan Ps Aldo Siahaan disertai sajian es kopi dan lemon tea menyegarkan suasana yang hangat pagi itu. Setelah sambutan Cesar Garcia menyampaikan sharing singkat mengenai kesatuan di dalam Kristus.  

Dalam pembukaan sharingnya Cesar menceritakan konteks bagaimana Pandemi, Perang Ukraina-Rusia, ketegangan antara partai politik, ternyata terjadi juga kurang lebih 100 tahun yang lalu. Tepatnya tahun 1925, dan ditahun yang sama, Pertemuan pertama Konferensi Mennonite Sedunia dilaksanakan di Basel, Swiss, ditengah permasalahan dan perbedaan yang ada selalu ada alasan untuk berkumpul yaitu untuk membantu orang yang memerlukan bantuan.  

Cesar juga menyatakan bahwa meski pertemuan tahunan Konferensi Mennonite Sedunia nanti diadakan di Indonesia bulan July tahun ini, pertemuan Anabaptist sedunia sebenarnya terjadi setiap saat di setiap belahan dunia, bahkan juga terjadi saat ini ditempat ini, karena dimana setiap kita berkumpul disitulah tubuh Kristus berada.  

Foto oleh Cindy Angela

Cesar juga menyatakan bahwa, “Kristus haruslah menjadi alasan yang mempersatukan, bukan bahasa, warna kulit, ras, dan bahkan doktrin, Karena sebenarnya kita semua masih dalam perjalanan menuju kepada kesempurnaan Ilahi.”  

Setelah sharing yang singkat padat dan sangat kontekstual, ruang tanya jawab pun dibuka, satu persatu pertanyaan dijawab dengan tepat sesuai dengan konteks dan kembali kepada Kristus yang adalah pusat. Setelah sesi tanya jawab selesai, Cesar Garcia memberi cinceramata berupa pajangan perjamuan terakhir dimana yang duduk di meja adalah perwakilan dari setiap budaya dan suku bangsa yang berbeda. Cinderamata diterima oleh Marta Castilo, selaku Wakil Pemimpin Eksekutif dari Konferensi Mosaik.  

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama, dengan sajian Nasi Campur Bali, sajian khas Indonesia dari Pulau Bali, Indonesia lengkap dengan sambal, kerupuk dan minuman teh manis, membawa undangan serasa berada di Bali pada siang hari itu. Acara fellowship dan makan bersama berlangsung hangat, Konferensi juga berterima kasih kepada Marina Setyati yang menyiapkan hidangan yang begitu nikmat.  

Foto oleh Cindy Angela

Kami berdoa mendukung pelayanan Cesar Garcia, dan Konferensi Mennonite Sedunia agar menjadi berkat dan menjadi saksi rekonsiliasi dan perdamaian Kristus di dunia begitu hancur dengan ketidak adilan, perang, dan penderitaan. Semoga damai Kristus memberkati dunia ini dan kita semua boleh menjadi saksi hidup bagi orang lain yang membutuhkan.  

Foto oleh Cindy Angela

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual

Mencari Suasana Indonesia di Philadelphia Selatan

May 5, 2022 by Cindy Angela

Kiri ke kanan Ps Hendy Matahelemual (ILC), Ps Beth Rauschenberger (Zion), Ps Sonya Kurtz (Zion), Ps Aldo Siahaan (PPC), Ps Jordan Luther (Zion), Ps Beny Krisbianto (NWC) sehabis makan siang di Djakarta Café, Philadelphia 4/5/2022.

Sebuah inisiatif datang dari percakapan antara Pelayan Eksekutif Steve Kriss dan Pemimpin Pelayanan Gereja Zion Mennonite untuk merencanakan kunjungan ke gereja gereja Mosaik Indonesia di Philadelphia. Rencana kunjungan ini diadakan dalam kaitannya dengan Konferensi Mennonite Sedunia di Indonesia tahun 2022. Tanggal yang dipilih adalah 17 July 2022.

“Kita tidak bisa semua pergi ke Konferensi Mennonite Sedunia tetapi kita bisa melakukan perjalanan singkat dan beribadah bersama sama sekaligus belajar dan berbagi pengalaman dan kehidupan berjemaat,” ujar Ps Sonya Kurtz Lead pastor dari Gereja Zion Mennonite.

Setelah saling bertukar pesan melalui email dan sms, akhirnya kami sepakat bertemu di Philadelphia untuk bertemu langsung tatap muka sambil makan bersama, dan juga merencanakan lebih detail lagi apa saja yang perlu dipersiapkan guna melancarkan ibadah bersama kami.

Philadelphia Praise Center, Indonesian Light Church dan Nations Worship Center akan menjadi tuan rumah di gereja masing masing yang akan membuka pintunya bagi jemaat Mosaic dari suburb untuk beribadah dan beramah tamah bersama sama. Dan pastinya setiap ibadah akan ditutup dengan makan siang bersama sama, dimana menu utamanya adalah masakan Indonesia.

Philadelphia selatan terkenal dengan julukan “Kampung Indonesia” dikarenakan ada cukup banyak orang Indonesia yang tinggal disini, dan juga lokasi perumahannya yang saling berdekatan ditambah  dengan banyaknya warung/toko toko kecil yang menjual makanan Indonesia, sehingga nama kampung terkesan lebih cocok dibandingkan dengan kota besar.

Menurut data KJRI tahun 2017 ada sebanyak 5600 orang Indonesia yang tinggal di kota Philadelphia. Tidaklah berlebihan jika ada ide untuk berkunjung ke Philadelphia untuk merasakan suasana Indonesia, karena apa yang ada di Indonesia hampir semuanya tersedia di kota Philadelphia.

Pertemuan perencanaan kami siang kemarin berlangsung sangat akrab, kami percaya bahwa Tuhan Yesus menyatukan apa yang tadinya jauh menjadi dekat, dan juga hubungan personal membuka banyak pintu yang tadinya tertutup. Ketika kami berbagi cerita pengalaman kami dalam melayani bersama ternyata meskipun kami berbeda budaya, bahasa, dan warna kulit ada rasa akrab yang mendalam dan saya percaya ini adalah kerja dari Roh Kudus di dalam gereja gereja Mosaik.

Saya percaya dimulai dari langkah sederhana, hubungan yang dalam dan luas bisa mulai terbangun, jurang pemisah budaya dan bahasa bisa dijembatani dengan solidaritas dan semangat kekeluargaan. Kami semua bersemangat untuk menantikan waktu di mana kami bisa beribadah bersama sama dengan saudara saudari dalam keluarga besar Mosaik Mennonite. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Filed Under: Articles

Sebuah Doa di Masa Kekerasan (A Prayer in a Time of Violence)

April 7, 2022 by Cindy Angela

Kekerasan adalah ekspresi tragis dari kebutuhan yang tidak terpenuhi. Kekerasan juga sangatlah berlawanan dengan hukum cinta kasih yang Tuhan Yesus ajarkan. “Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain” – Lukas 6:29  

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kekerasan banyak terjadi disekitar kita, Oleh sebab itu sebagai alternatif dari kekerasan yang terjadi di seluruh dunia ini kami sebagai Anabaptist Mennonite percaya bahwa perdamaian, keadilan dan anti kekerasan adalah bagian penting dari apa yang kami percayai dalam mengikut Tuhan Yesus. Berikut penjabaran dari artikel 22, Pengakuan iman dalam sudut pandang Mennonite.  

people inside room

“Kami percaya bahwa perdamaian adalah kehendak Allah. Allah menciptakan dunia dalam damai, dan kedamaian Allah paling lengkap diwahyukan dalam Yesus Kristus, yang adalah kedamaian kita dan kedamaian seluruh dunia. Dipimpin oleh Roh Kudus, kita mengikuti Kristus di jalan damai, melakukan keadilan, membawa rekonsiliasi, dan dan tidak melakukan perlawanan bahkan dalam menghadapi kekerasan dan peperangan. “ 

“Meskipun Allah menciptakan dunia yang damai, umat manusia memilih jalan yang tidak benar dan kekerasan.  Semangat balas dendam meningkat, dan kekerasan berlipat ganda, namun visi semula akan kedamaian dan keadilan yang tidak padam. Para nabi dan utusan-utusan Allah lainnya terus tertuju kepada orang Israel mempercayai Allah daripada senjata dan kekuatan militer.” 

“Kedamaian Allah itu bermaksud untuk manusia dan ciptaan terungkap paling sepenuhnya di dalam Yesus Kristus. Suatu pujian yang riang gembira tentang damai sejahtera memberitakan kelahiran Yesus. Yesus mengajarkan mengasihi musuh, mengampuni kesalahan-kesalahan, dan segera berdamai serta mempunyai hubungan yang benar. Ketika terancam, dia memilih untuk tidak melawan, tetapi menyerahkan hidupnya dengan sukarela. Oleh kematian dan kebangkitanNya, Ia telah menggalahkan kuasa maut dan memberi kita perdamaian dengan Allah. Dengan demikian Ia telah mendamaikan kita dengan Allah dan telah mempercayakan kepada kita pelayanan perdamaian.” 

“Sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita berpartisipasi dalam pelayananNya mengenai perdamaian dan keadilan. Dia memanggil kita untuk mendapatkan berkat kita dalam membuat damai dan mencari keadilan. Kami melakukannya dengan semangat kelemah-lembutan, bersedia dianiaya karena kebenaran. Sebagai murid-murid Kristus, kami tidak mempersiapkan diri untuk perang, atau berpartisipasi dalam perang atau militer. Roh yang sama yang memberi kuasa atas Yesus juga berkuasa atas kita untuk mengasihi musuh, untuk mengampuni daripada untuk membalas dendam, untuk membina perdamaian,untuk bergantung pada komunitas orang-orang percaya untuk menyelesaikan perselisihan, dan untuk mengalahkan kejahatan tanpa kekerasan.” 

“Dengan pimpinan Roh Kudus, dan permulaan dalam gereja, kami menyaksikan kepada semua umat bahwa kekerasan bukanlah kehendak Allah. Kami bersaksi menentang segala bentuk kekerasan, termasuk perang antar bangsa, permusuhan antara ras dan kelas, pelecehan pada anak dan perempuan, kekerasan antara laki-laki dan perempuan, pengguguran bayi, dan hukuman mati. Kami memberikan loyalitas kami yang utama kepada Allah, sumber kasih karunia dan damai sejahtera, yang memimpin gereja setiap hari dalam menggalahkan kejahatan dengan kebaikan, yang memampukankan kita untuk melakukan keadilan, dan yang membantu kita di dalam pengharapan mulia dari pemerintahan Allah yang damai. “ 

silhouette of kneeling man

Mari kita bersama membawa dalam doa untuk setiap konflik kekerasan yang terjadi saat ini, agar perdamaian, keadilan dan semangat anti kekerasan bisa terwujud, berdoa untuk konflik- konflik yang terjadi hari ini:  

  • Perang Russia dan Ukraina 
  • Perang saudara di Afghanistan, Myanmar, Yemen, Syria 
  • Perang obat terlarang di Mexico dan Colombia 
  • Perang antar etnik di Sudan Selatan 
  • Perang melawan terorisme di negara-negara Afrika 
  • Perang melawan kekerasan bersenjata di Papua Barat, Indonesia 
  • Kejahatan kebencian dan kekerasan bersenjata di kota kota di Amerika Serikat 

Dan tentunya masih banyak lagi kekerasan yang terjadi diluar dari yang bisa disebutkan di atas. Mari kita menjadi pembawa damai, di dunia yang haus akan perdamaian. Doa dan bantuan kita sangat berarti, mari mendukung perdamaian dan anti kekerasan. Mari berdoa:  

Bagi mereka yang terluka oleh kekerasan: keluarga yang telah kehilangan orang yang dicintai dan mereka yang mengalami luka fisik, Tuhan yang Maha pengasih, berikan mereka kenyamanan yang penuh, jadilah bagi mereka sumber penyembuhan dan tempat peristirahatan yang aman. Kami berdoa, Allah sumber damai, Kirimkan Roh-Mu kepada kami   

Bagi mereka yang berusaha menyakiti orang lain, Tuhan yang Maha pengasih, lembutkan hati mereka dan tenangkan pikiran mereka. Semoga kebencian diganti dengan kasih, kekerasan dengan kedamaian dan kegelapan dengan cahaya-Mu. Kami berdoa, Allah sumber damai, Kirimkan Roh-Mu kepada kami   

Bagi kami yang membaca doa ini, jadikan kami saksi perdamaian dalam interaksi kami sehari-hari dan mengadvokasi perdamaian di dunia. Kami berdoa, Allah sumber damai, Kirimkan Roh-Mu kepada kami   

Bagi mereka yang telah meninggal karena kekerasan, semoga mereka disambut dengan paduan suara malaikat dan mengalami kedamaian dan sukacita kekal-Mu. Kami berdoa, Allah sumber damai, Kirimkan Roh-Mu kepada kami 

 Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

silhouette of man

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual

Kuning, hitam dan putih

March 31, 2022 by Cindy Angela

Di alam sekitar kita, kuning adalah warna bunga bakung dan bunga matahari, menandakan munculnya musim semi, membawa harapan, optimisme dan pencerahan. Namun di Amerika Serikat, warna kuning dipersenjatai menjadi warna kebencian bagi orang orang Asia.

Sampai dengan saat ini kekerasan terhadap orang Asia di Amerika masih terus terjadi. Hampir setiap hari ada saja cerita dan berita mengenai pemukulan, penusukkan, dan penembakkan yang mentargetkan orang Asia. Dan sayangnya kasus yang terjadi di lapangan lebih banyak daripada yang bisa dilaporkan.

Sunflower, Blossom, Bloom, Flower, Yellow, Emotions

Rasisme terhadap orang Asia di Amerika bukanlah hal yang baru ini sudah terjadi sepanjang sejarah menulis. Tetapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa terjadi kenaikkan yang cukup signifikan beberapa tahun kebelakang ini. Bagaimana gereja menyikapi hal ini? Apa pesan yang disampaikan kepada jemaat? Bagaimana sebagai komunitas Asia kita bisa melewati pencobaan ini?

Sebagai gereja Imigrant Asia di Amerika Serikat, Ibadah minggu adalah sebuah tempat dimana kita jemaat dikuatkan, dan diperlengkapi agar siap untuk menghadapi tantangan sehari hari. Firman Tuhan dan Persaudaraan antara saudara-saudari seiman adalah satu satunya yang bisa menopang kehidupan pribadi.

Surat Paulus terhadap jemaat di Roma, menjadi salah satu pegangan kita bahwa ditengah tengah kesengsaraan ada sebuah ujian yang menghasilkan ketekunan, dimana ketekunan menghasilkan kekuatan dan pengharapan. (Roma 5: 3-4). Sebagai komunitas immigrant, berita baik dalam Alkitab menjadi sumber kekuatan yang tidak ada habis habisnya.

Hands, Team, United, Together, People, Unity, Teamwork

Yesus menjadi model nyata bagaimana hidup sebagai minoritas di dalam budaya mayoritas yang tidak adil dan penuh kekerasan dan diskriminasi. Iman pribadi kami sebagai bagian dari komunitas imigran teruji. Tentunya selain iman, langkah pencegahan, pemulihan dan perbaikan perlu dilakukan.

Beberapa waktu lalu Philadelphia Praise Center menjadi tuan rumah pembagian peluit kuning. Peluit kuning adalah simbol perlindungan diri dan solidaritas dalam perjuangan bersama melawan diskriminasi historis dan kekerasan anti-Asia. Peluit ini adalah alat sederhana dengan tujuan universal, memberi sinyal bahaya dan meminta bantuan untuk semua orang yang tinggal di Amerika.

Secara struktural rekonsiliasi antar setiap lapisan masyarakat perlu terjadi agar hal ini tidak terulang kembali di masa depan. Tetapi bukan mengecilkan setiap usaha usaha yang ada namun Firman Tuhan jelas berkata, bahwa pemulihan dan rekonsiliasi yang sejati hanya akan terjadi di dalam Yesus.

Hanya dengan perdamaian oleh darah salib Kristuslah, Ia datang mendamaikan kita semua (Kolose 1:20). Oleh sebab itu peran gereja adalah menjadi pintu sekaligus jembatan antara budaya, ras, suku, golongan, untuk bisa saling menjalin hubungan yang otentik diluar hubungan transaksional dan organisasional semata mata

Dosa supremasi kulit putih perlu diakui, karena inilah yang mengakibatkan hierarki ras dimana minoritas berlomba lomba ingin menjadi “putih”. Oleh sebab itu kita mengenal istilah model minoritas, dimana standard sukses sudah ditetapkan dan perlombaan pun dimulai, sayangnya dalam perlombaan ini tidak ada yang menjadi pemenang, karena sebenarnya kita ini semua adalah satu ras: manusia.

Iblis begitu pandai memanipulasi keadaan ini, perbedaan yang seharusnya memperkaya malah menjadi pemecah. Oleh sebab itu doa dan tindakan nyata perlu dilakukan lebih dari simbolisme semata mata. Perlu menjadi pertanyaan yang perlu dijawab oleh setiap gereja gereja imigrant Asia, kulit putih,kulit hitam, dan hispanik langkah konkrit apa yang bisa kita lakukan dalam mempersatukan setiap budaya dan warna kulit yang beragam ini?

Safwat Marzouk, dalam bukunya “Gereja Interkultural: Visi Alkitab di Era Migrasi” menawarkan visi Alkitabiah tentang apa artinya menjadi gereja antarbudaya, yang menumbuhkan keragaman yang adil, mengintegrasikan artikulasi budaya iman dan ibadah yang berbeda, dan mewujudkan alternatif untuk politik asimilasi dan segregasi.

Visi Alkitabiah ini memandang perbedaan budaya, bahasa, ras, dan etnis sebagai karunia dari Tuhan yang dapat memperkaya ibadah gereja, memperdalam rasa persekutuan di gereja, dan memperluas kesaksian gereja terhadap misi rekonsiliasi Tuhan di dunia. (Ikuti webinarnya secara langsung di halaman Facebook Mosaic Mennonite Conference, 21 April 2022, jam 7.00 PM)

Mari kembalikan warna kuning menjadi warna harapan, hitam menjadi warna keberanian, dan putih menjadi warna perdamaian. Mari kita terus mendoakan khususnya setiap korban kekerasan, berdoa untuk perdamaian dan rekonsiliasi, berdoa setiap roh-roh xenophobia boleh dipatahkan di dalam nama Yesus. Dan biarlah kuasa darah Yesus tercurah atas setiap kita, sehingga dengan kuasa Roh Kudus kita sebagai pengikut Yesus bisa menjadi agen agen perdamaian dan rekonsiliasi antar warna kulit, budaya, dan kelompok. Tuhan Yesus memberkati.

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual

Pengakuan Tanah

March 23, 2022 by Cindy Angela

Selalu akan ada hal baru yang kita pelajari ketika kita mengambil bagian dalam pekerjaan rekonsiliasi yang Tuhan Yesus kerjakan. Salah satu hal yang baru saya pelajari yang erat kaitanya dengan rekonsiliasi adalah adalah Praktek Pengakuan tanah, atau “Land Acknowledgment”.

Pengakuan Tanah atau Land Acknoledgment adalah sebuah praktek memberikan pernyataan formal yang mengakui dan menghormati penduduk asli yang terlebih dahulu memelihara tanah ditempat dimana kita berada dan juga hubungan yang tetap ada antara penduduk asli dan tanah tersebut.

Panoramic Photography of Green Field

Praktek ini menjadi suatu hal yang dilakukan ketika terjadi kesadaran baru di Amerika Serikat mengenai penindasan sistemik, anti-rasisme, dan supremasi kulit putih terhadap penduduk asli dan orang kulit berwarna. Meski bersifat simbolik tetapi ini sangat membantu kesadaran khususnya mengenai sejarah penindasan dan dominasi yang perlu diingat dan tidak boleh dilupakan agar supaya tidak terulang kembali di masa yang akan datang.

Ketika saya menulis artikel ini, saya sedang berada di kota Philadelphia, PA yang merupakan tanah yang dimiliki dan dipelihara oleh suku Lenni Lenape sebelum pendatang dari Eropa menduduki wilayah ini dan memaksa suku Lenape untuk keluar dari wilayahnya. Suku Lenni Lenape adalah satu dari 574 suku, penduduk asli Amerika, yang menduduki wilayah yang sekarang adalah negara bagian Pennsylvania Timur, New Jersey, Delaware, dan New York.

Black and White Photo of the Benjamin Franklin Bridge

Konflik perebutan tanah antara pendatang dan penduduk asli bukanlah yang baru dan bahkan masih terjadi sampai dengan saat ini di berbagai belahan dunia. Yang memiliki kekuatan lebih besar biasanya akan menyingkirkan yang paling lemah.

Pengakuan tanah penting supaya kita bisa menyadari bahwa konflik dan krisis terkadang tidak terlihat dan tersembunyi dibalik budaya, norma, dan kekuasaan yang sedang berjalan. Dan menyadari bahwa ada “dosa”, “krisis” dan “konflik” yang perlu didamaikan dan diselesaikan secara tuntas, dimana kecenderungan yang ada adalah untuk melupakan dan menutup nutupi. Luka jika belum kering ditutupi akan menjadi borok, dan inilah yang menjadi akar permasalahan yang ada di masa datang.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis,” Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (2 Korintus 5:18)

Sebagai agen perdamaian pengakuan akan penderitaan yang seseorang / kelompok / budaya alami adalah sebuah langkah awal dari perjalanan transformasi bersama sama. Pengakuan tanah adalah salah satunya, mengakui bahwa pada suatu masa di dalam sejarah terjadi penindasan, pencurian, dominasi yang terjadi oleh pendatang terhadap penduduk asli.

Tanpa pengakuan “dosa” (baik dosa pribadi, kelompok) pertobatan tidak akan terjadi. Mari menyadari bahwa kita adalah bagian dari sistem dunia yang penuh dengan dosa, dan hanya dengan pengakuan, pertobatan, dan penebusan Yesus dikayu saliblah rekonsiliasi bisa terjadi.

Close-Up Shot of a Butterfly on a Flower

Sebagai bagian dari komunitas pendatang di Amerika Serikat pemahaman mengenai pengakuan ini menjadi suatu cermin bagi kita, bagaimana menjadi agen perdamaian dalam menghadapi konflik dan krisis yang terjadi di tanah ini dimana antar budaya / kelompok saling bergesekan satu sama lain. Berita baiknya adalah, Tuhan ada bersama sama dengan kita, Tuhan panggil kita menjadi pembawa damai, dan Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Tuhan Yesus memberkati.

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual

Kasih Sempurna Melenyapkan Ketakutan

March 3, 2022 by Cindy Angela

Pertemuan iman dan kebenaran (Faith and Life Gathering) yang diadakan minggu lalu yang dihadiri oleh para pemimpin kredensial berakhir dengan sebuah pengertian bersama bahwa kita semua perlu duduk bersama dan melakukan lebih banyak percakapan di dalam konferensi kami terlepas dari perbedaan pandangan yang kami miliki. Dan kami semua percaya bahwa adalah lebih baik menghadapi permasalahan daripada menghindarinya.

Namun tidak dipungkiri sebagai orang Timur, orang Asia Indonesia, isu seksualitas, gender, LGBTQ, bahkan isu rasisme bukan merupakan topik yang terbuka untuk dibahas. Kecenderungan untuk menutupi dan menghindari isu isu ini untuk dibicarakan sangat tinggi. Karena masih banyak yang beranggapan bahwa isu ini adalah tabu dan pembicaraan mengenai hal ini tidak begitu pantas.

Tetapi dengan semangat Intercultural, dimana setiap ekspresi budaya bukan hanya dihormati dan dimengerti tetapi juga hidup bersama dan saling mempengaruhi, tentunya ini bisa menjadi sebuah kesempatan bagi komunitas Mosaic untuk bertumbuh bersama sama, memperkuat karakter masing masing sehingga menyerupai karakter Kristus.

Sebagai orang Timur setiap konflik dihadapi dengan secara tidak langsung, lisan, bahkan seringkali melibatkan pihak ketiga, tetapi kesatuan komunitas tetap terjaga. Tetapi dalam budaya barat konflik dihadapi secara langsung, cenderung dalam bentuk tertulis, dan komunitas terbagi atas kelompok kelompok yang terpolarisasi dalam komunitas yang berbeda.

Menjadi tantangan bagi kita semua yang berada di dalam Mosaic, untuk bisa berkomunikasi dan hidup bersama sebagai satu kesatuan tubuh Kristus yang unik. Sebagai Mosaik, yang hancur retak tetapi indah jika dipersatukan, dan saya percaya bahwa hanya meneledani Yesus dan mengandalkan kuasa Roh Kuduslah, kesatuan yang indah ini bisa terwujud.

Menyikapi isu LGBTQ khususnya mengenai pengajuan resolusi Pertobatan dan Transformasi, Moderator Konferensi Mosaic, Rev Ken Burkholder dan Rev Stephen Kriss selaku Pemimpin Pelayan Eksekutif menyatakan bahwa Konferensi Mennonite Mosaic akan tetap berpegang pada Pernyataan Bersama Gereja gereja tentang Kasih Karunia dan Kebenaran dan tetap terbuka dalam mendengarkan pendapat dan masukkan yang ada.

Saya percaya kita pengikut Yesus harus berani bergerak keluar dari zona nyaman kita masing masing untuk berani berbicara mengenai pemahaman dan perjalanan kita masing masing dalam menyikapi hal ini (LGBTQ, Racial /Criminal Justice), jika komunikasi tidak terjalin kita akan tetap berada di kotak kita masing masing. Kotak yang menghambat komunikasi dan memperbesar asumsi, yang akan mengarah bukan pada persatuan tetapi penghakiman dan perpecahan.

Pastor Charlene Smalls (Ripple) dalam salah satu pertemuan Iman dan Kebenaran, mengutip satu ayat dari Kitab Yesaya 1:18 “Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”

Dalam bahasa Ibrani kata berperkara adalah yakach, yang artinya mari saling berdiskusi, bertukar pikiran, berargumentasi. Dalam terjemahan New King James Version kata berperkara diterjemahkan menjadi “reason together”. Dalam menyikapi perbedaan dalam mengartikan Firman Tuhan dan juga dalam praktik kehidupan sehari hari, saling berdiskusi dan bertukar pikiran adalah sesuatu yang baik dan praktis. Inilah yang perlu kita praktekkan dalam kehidupan kita bersama-sama.

“Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” – 1 Yohanes 4:18. Seringkali rasa takutlah yang menjadi alasan kita tidak mau “berperkara”, rasa takutlah yang menjadi alasan kita tidak mau duduk bersama, tetapi Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Mari kita sama sama berdoa agar Roh yang hidup itu memberikan kita penghiburan, pemulihan, keberanian dan kasih, sehingga kita bisa hidup bersama di dalam kasih persaudaraan yang nyata. Tuhan Yesus memberkati.

Filed Under: Articles Tagged With: faith and life commission, Hendy Matahelemual, intercultural

Berjalan Bersama

February 24, 2022 by Cindy Angela

“Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” ayat dari kitab Amos ini dibagikan oleh Pastor Yakub Limanto dalam pertemuan bulanan pendeta-pendeta Indonesia Mosaic Conference bulan ini. Kesepakatan merupakan hal yang membuat kita bisa berada bersama-sama dalam sebuah komunitas dan organisasi, dan inilah yang membuat kita berjalan bersama sebagai gereja Tuhan.

Namun tidak dipungkiri bahwa untuk mencapai sebuah kesepakatan tidaklah mudah. Diperlukan kerendahan hati dan keberanian untuk meninggalkan ego, ketakutan menuju kepada kasih, harapan dan iman kepada kebenaran. Ada pepatah yang berkata, “Tempat dimana ada kesepakatan disitulah ada kekuatan”. Sudah sering kita mendengar himbauan persatuan dalam sebuah komunitas yang terpecah. Bagaimana kita bersatu sebagai komunitas orang percaya?

Ps Buddy Hannanto, yang juga menjabat sebagai ketua Indonesian Mennonite Association (IMA) pada kesempatan kali ini ingin mengajak para pendeta untuk menyikapi resolusi-resolusi yang ada yang akan dipelajari, dibicarakan dan disahkan pada Pertemuan Delegasi Khusus Gereja Mennonite Amerika Serikat pada bulan Mei mendatang.

Pertemuan Delegasi khusus Gereja Mennonite Amerika Serikat akan diadakan di Kansas City, MO pada tanggal 27-30 Mei 2022. Dan dalam pertemuan ini akan dibahas empat buat resolusi. Satu buah resolusi diperkenalkan untuk dipelajari, dua buah resolusi akan diputuskan, dan satu buah resolusi akan diambil suara apakah akan untuk diputuskan untuk diambil suara atau tidak.

Pastor Buddy Hannanto, Ketua Indonesian Mennonite Association (IMA), IMA merupakan kelompok etnik yang terdaftar di dalam Gereja Mennonite Amerika Serikat (MCUSA) yang memiliki hak suara. Photo oleh David Tunggawijaya.

Berikut resolusi resolusi yang akan dibahas, diputuskan dalam Pertemuan Delegasi Khusus: 

  1. Klarifikasi Kebijakan MCUSA dan peran Panduan keanggotaan MCUSA Clarification on Mennonite Church USA Polity and the Role of the Membership Guidelines of Mennonite Church USA (akan diputuskan)  
  2. Resolusi Keadilan MCUSA MC USA For Justice Resolution (akan dipelajari) 
  3. Resolusi Aksesibilitas MCUSA MC USA Accessibility Resolution (akan diputuskan) 
  4. Resolusi Pertobatan dan Transformasi A Resolution for Repentance and Transformation (Akan diputuskan apakah akan akan diambil suara untuk disahkan atau tidak) 

Tidak dipungkiri bahwa ada beberapa draft resolusi diatas menimbulkan kontroversi dan memiliki kecenderungan untuk memecah belah jika tidak disikapi dengan baik. Oleh sebab itu kami percaya bahwa tuntuntan Roh Kudus dan teladan Tuhan Yesuslah yang dapat mempersatukan kita semua.

Pastor Ken Burkholder, Moderator dari Konferensi Mennonite Mosaik, dalam kesempatan pertemuan Iman dan Hidup (Faith and Life Gathering) menyampaikan bahwa menjadi catatan bahwa Konferensi Mennonite Mosaik akan tetap menjadikan pernyataan bersama gereja gereja (Church Together statement) sebagai acuan menyikapi resolusi resolusi diatas.

Berikut pernyataan bersama gereja gereja dalam Konferensi Mennonite Mosaic:

  1. Pernyataan Bersama Gereja-Gereja mengenai misi untuk pergi ke perbatasan
  2. Pernyataan Bersama Gereja-Gereja tentang Iman dan Kehidupan
  3. Pernyataan Bersama Gereja-gereja mengenai Kasih Karunia dan Kebenaran

Meski demikian kehadiran dan suara kita sebagai delegasi dan anggota MC USA tetap berarti oleh sebab itu perwakilan kita sangat berarti pada pertemuan delegasi khusus MCUSA pada bulan Mei 2022. Berikut beberapa keterangan mengenai Pertemuan Delegasi Khusus MCUSA:

  • Pertanyaan dan jawaban seputar Pertemuan Delegasi – FAQs for the special session 
  • Proses delegasi untuk pertemuan – Delegate process for the special session 
  • Anggaran dasar Rumah Tangga MC USA – Bylaws of MC USA 
  • Pemberitahuan resmi Pertemuan Delegasi Khusus – Official notice of the Special Delegate Assembly 
  • Sejarah Panduan Keanggotaan berdasarkan waktu – Timeline for Membership Guidelines of Mennonite Church USA 
  • Saran untuk melibatkan delegasi muda – Tips for Engaging Youth Delegates

Mari berjalan bersama di dalam kasih persaudaraan, dan kesepakatan untuk hidup dalam damai, iman dan mengikuti teladan Tuhan Yesus. Berdoa untuk setiap proses berada di dalam tuntunan Roh Kudus.  

Filed Under: Articles Tagged With: Hendy Matahelemual, MCUSA, Special Delegate Session

  • « Go to Previous Page
  • Go to page 1
  • Interim pages omitted …
  • Go to page 9
  • Go to page 10
  • Go to page 11
  • Go to page 12
  • Go to page 13
  • Interim pages omitted …
  • Go to page 18
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

  • Halaman Utama
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Staff
    • Dewan & Komite
    • Petunjuk Gereja & Pelayanan
    • Memberi
    • Tautan Mennonite
  • Media
    • Artikel
    • Informasi Berita
    • Rekaman
    • Audio
  • Sumber daya
    • Tim Misi
    • Antar Budaya
    • Formasional
    • Penatalayanan
    • Keamanan Gereja
  • Peristiwa
    • Pertemuan Konferensi
    • Kalender Konfrens
  • Institut Mosaic
  • Hubungi Kami

Footer

  • Home
  • Hubungi Kami
  • Pertemuan Konferensi
  • Visi & Misi
  • Sejarah
  • Formasional
  • Antar Budaya
  • Tim Misi
  • Institut Mosaic
  • Memberi
  • Penatalayanan
  • Keamanan Gereja
  • Artikel

Copyright © 2026 Mosaic Mennonite Conference | Privacy Policy | Terms of Use
Aligned with